Balita 1,5 Tahun Evakuasi SAR Setelah Hypotermia Ungaran
Gambar atau konten salah?
Seorang balita berusia 1,5 tahun terpaksa dievakuasi oleh Tim SAR karena mengalami hipotermia setelah orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Kabar tentang kejadian ini muncul di akun Instagram @kabarungaran pada 13 April 2026. Dalam unggahan tersebut, penulis akun tersebut menuliskan:
“Kronologi singkat, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian hingga mencapai puncak Bondolan. Namun saat berada di puncak, korban dan rombongan mengalami hujan sehingga suhu tubuh balita menurun dan menunjukkan gejala hipotermia,”
Video yang diunggah menampilkan balita tersebut menangis keras. Petugas SAR segera menutupi balita dengan emergency blanket, lalu berusaha menenangkan sang anak sebelum menggendongnya turun dari gunung.
Konfirmasi resmi datang dari Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan. Ia menyatakan bahwa balita itu kini sudah pulang dalam kondisi selamat. Bergas berkata:
“Posisi balita sudah turun dari Basecamp Perantunan, sudah dibawa pulang orang tuanya dalam kondisi selamat. Balita perempuan usia 1,5 tahun,”
Menurut Bergas, peristiwa ini terjadi pada 11 April. Ia menjelaskan bahwa balita berinisial L bersama ayah dan ibunya mendaki Gunung Ungaran hingga tiba di Puncak Bondolan pada siang hari. Pada pukul 14.00 WIB, cuaca tiba-tiba memburuk disertai hujan deras, sehingga suhu tubuh balita menurun drastis dan muncul gejala hipotermia. Bergas menambahkan:
“Saat peristiwa itu terjadi, balita itu terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan ekstrem. Tim SAR yang mengetahui peristiwa itu langsung bergegas mendatangi lokasi dan melakukan pertolongan pertama.”
Petugas SAR dari Basarnas, yang sedang melaksanakan siaga khusus, segera bergerak ke kawasan puncak Bondolan. Mereka melakukan penanganan awal untuk menstabilkan suhu tubuh korban, termasuk menghangatkan tubuh dan memberikan pertolongan pertama pada kondisi hipotermia. Setelah kondisi balita dinilai stabil, tim SAR mengevakuasi keluarga tersebut ke Basecamp Perantunan untuk penanganan lebih lanjut.
“Setelah kondisi korban mulai stabil, tim SAR gabungan mengevakuasi balita bersama orang tuanya menuju Basecamp Perantunan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,”
Bergas menekankan bahwa pendakian memerlukan persiapan matang, baik fisik maupun mental, serta peralatan pendukung. Ia mengingatkan bahwa kegiatan hiking tidak cocok bagi kelompok rentan seperti balita. “Artinya giat tersebut bukan untuk kelompok rentan seperti balita untuk diajak ke sana,” ujar Bergas. Ia menambahkan perlunya kesadaran dari semua pihak, baik warga maupun petugas, untuk mengingatkan atau melarang mengajak kelompok rentan melakukan pendakian karena risiko berbahaya hingga kematian.
Kejadian ini menegaskan bahwa pendakian gunung, meski terlihat menyenangkan, dapat menjadi bahaya bagi anak kecil jika tidak ada persiapan yang memadai. Selama balita kini dalam kondisi selamat, peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat tentang pentingnya penilaian risiko dan kesiapan sebelum memulai aktivitas di alam terbuka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
