Banjir Bandara 26 Mei: Air Merendam 2185 Jiwa di Dayeuhkolot

Eko P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Banjir Bandara 26 Mei: Air Merendam 2185 Jiwa di Dayeuhkolot

Gambar atau konten salah?

Selasa, 26 Mei 2026, hujan deras mengguyur wilayah Bandung Raya. Tiga sungai—Citarum, Cipalasari, dan Cigede—tak mampu menampung debit air. Akibatnya, genangan meluas ke permukiman warga di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Air menembus jalan raya, menenggelamkan permukiman dengan ketinggian air mulai 10 sentimeter hingga mencapai 1,5 meter. Di beberapa titik, warga memindahkan barang ke lantai dua rumah. Sebagian lainnya langsung mengungsi ke tempat yang sudah disiapkan pemerintah.

Camat Dayeuhkolot, Asep Suryadi, mengatakan petugas gabungan masih bersiaga di lapangan untuk mengantisipasi banjir susulan. Ia juga menegaskan proses pendataan warga terdampak masih terus berlangsung.

Jumlah jiwa yang terdampak sekitar 2185 jiwa dan 772 kepala keluarga (KK),” ujar Asep.

Wilayah dengan genangan paling parah berada di Desa Cangkuang Wetan, khususnya di Kampung Cibedug Hilir RW 01 dan Kampung Cibedug Girang RW 02. Di sana, tinggi air mencapai 20 sentimeter hingga 150 sentimeter.

Area banjir yang dalam juga terletak di Kelurahan Pasawahan, Kampung Palasari, dan Kampung Cisirung, dengan ketinggian air 50 sentimeter hingga 120 sentimeter.

Air masuk ke permukiman warga di Desa Dayeuhkolot. Beberapa kawasan seperti Kampung Babakan Sangkuriang, Citeureup, Cilisung, Bojongasih, hingga Kaum ikut terendam dengan tinggi genangan antara 10 sampai 80 sentimeter.

Di Desa Citeureup, banjir merendam Kampung Leuwi Bandung, Lamajang, Lamajang Peuntas, Sukabirus, dan Cigempol. Ketinggian air di sana mencapai 60 sentimeter. Banjir tidak hanya mengganggu hunian; jalur utama pun lumpuh.

Kondisi banjir lainnya berada di Jalan Raya Dayeuhkolot depan kantor pos, ketinggian 40 sampai 60 cm. Kemudian Jalan Raya Dayeuhkolot - Moh Toha depan PT Metro Garmen dengan ketinggian 40 sampai 50 cm,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, ratusan warga mulai dipindahkan ke titik pengungsian. Salah satu lokasi pengungsian dibuka di Masjid Annur, Desa Citeureup. Sebanyak 56 warga dari 21 kepala keluarga mengungsi di lokasi tersebut.

Dari 56 jiwa itu ada 3 lansia, 28 orang dewasa, 9 orang balita, 1 orang bayi, 3 orang ibu menyusui, 1 orang disabilitas. Kemudian siswa SD sebanyak 5 orang, siswa SMP sebanyak 3 orang, siswa SMA sebanyak 2 orang, dan 1 orang pengungsi sakit,” kata Asep.

Tempat pengungsian lain disiapkan di Masjid Al Ikhlas, Desa Citeureup, yang menampung 50 warga dari 17 kepala keluarga. Jumlah itu terdiri dari 5 lansia, 32 dewasa, 2 balita, 1 penyandang disabilitas, 1 anak TK, 4 siswa SD, 4 siswa SMP, dan 1 siswa SMA.

Jadi total pengungsi di Desa Citeureup itu ada sekitar 106 jiwa dan 38 kepala keluarga,” kata Asep.

Sementara di Gedung Shelter Desa Dayeuhkolot, sebanyak 62 warga dari 23 kepala keluarga juga telah dievakuasi dari sejumlah RW terdampak. Rinciannya terdiri dari 34 orang dewasa, 5 lansia, 5 balita, 1 ibu menyusui, 1 penyandang disabilitas, 8 anak SD, 5 anak SMP, dan 3 anak SMA.

Jadi dapat kami simpulkan jumlah pengungsi se-Kecamatan Dayeuhkolot sebanyak 168 jiwa dan 61 kepala keluarga,” bebernya.

Di tengah upaya penanganan, pemerintah menyebut kebutuhan dasar warga mulai menjadi perhatian utama. Yang paling dibutuhkan warga saat ini adalah air bersih, makanan hingga alat tidur.

Kebutuhan mendesak bagi para warga terdampak adalah makanan siap saji, makanan balita, air minum, selimut, sembako, alat kebersihan, troli, dan karung. Kemudian yang paling dibutuhkan adalah alat pompa sedot,” ucapnya.

Pengungsi di wilayah ini menghadapi kondisi yang sulit. Air menembus rumah, jalan tertutup, dan kebutuhan pokok menjadi prioritas. Pemerintah terus memantau situasi, menyiapkan tempat pengungsian, dan menyediakan bantuan dasar. (bba/sud)

Banjir Bandung RayaCitarumCipalasariDayeuhkolotPengungsianAir bersihPendataan warga

Komentar

Memuat komentar...