Banjir Cirebon: Pantura Tergenang, Lalu Lintas Terhenti

Bima J. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Banjir Cirebon: Pantura Tergenang, Lalu Lintas Terhenti

Gambar atau konten salah?

Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Cirebon sejak Senin pukul 21.00 WIB hingga Selasa 19 Mei 2026 pagi. Kondisi ini menyebabkan Jalur Utama Pantura tergenang air akibat luapan dari area persawahan di Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Genangan tersebut menghambat arus lalu lintas di kawasan Desa Rawa Urip dan Desa Bendungan.

Antrean panjang kendaraan mengular di Jalur Pantura Cirebon, tepatnya di Desa Rawa Urip, Kecamatan Pangenan. Banjir yang merendam badan jalan pada Selasa 19 Mei 2026 pagi memaksa para pengguna jalan untuk ekstra waspada. Tidak sedikit pengendara terpaksa memutar balik kendaraannya karena ketinggian air yang merendam jalur nasional tersebut mencapai 30-40 cm. Bahkan, para pengguna roda dua memilih untuk tidak melintas karena risiko mesin kendaraan mati terendam air.

Mengingat Jalur Pantura merupakan akses utama masyarakat, aktivitas para karyawan dari sejumlah perusahaan di wilayah Cirebon timur sangat terganggu. Banyak dari mereka yang tidak dapat sampai di tempat kerja tepat waktu. Salah satunya adalah Robi (26), yang mengungkapkan bahwa banjir ini menjadi penghambat utama aktivitasnya pagi ini. "Kalo udah begini pasti kesiangan buat masuk kerja, soalnya ketinggian air pasti ngerendem motor," terangnya. Ia juga menyampaikan, kondisi ini mengharuskannya untuk mencari jalan alternatif yang jarak tempuhnya jauh lebih memutar dari perusahaan tempatnya bekerja. "Mau enggak mau ini mah ya harus muter dengan jarak yang lumayan jauh, otomatis agak kesiangan masuk kerjanya," paparnya.

Kapolsek Pangenan, AKP Abdul Majid, mengatakan banjir ini dipicu oleh tingginya debit air di Sungai Cimanis yang melintasi Desa Beringin. Air yang meluap dari sungai masuk ke area persawahan, lalu meluber hingga ke badan jalan raya karena posisi jalan yang lebih rendah atau cekung. Hingga Selasa pagi, ia menuturkan ketinggian air di badan jalan bervariasi mulai 30-40 cm. "Sampai dengan saat ini kendaraan sudah bisa melintasi meskipun hanya satu lajur karena sudah mulai berangsur surut," paparnya.

Ia menambahkan bahwa banjir tidak hanya merendam jalur utama, tetapi juga masuk ke permukiman di Desa Rawa Urip dan Desa Bendungan. Air sempat merendam rumah warga dengan ketinggian hingga 40 cm, namun kini berangsur surut menjadi 30 cm seiring mengalirnya air menuju sungai di sisi seberang jalan. Meski sempat terjadi ketersendatan, petugas kepolisian memastikan arus lalu lintas dari arah Cirebon menuju Losari maupun sebaliknya tetap berjalan. "Kami melakukan pengaturan lalu lintas dan menerapkan sistem contraflow khusus bagi kendaraan kecil di titik-titik yang terdalam. Sementara untuk kendaraan besar, tetap mengikuti jalur normal," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi terpantau kondusif. Petugas mengimbau para pengendara untuk tetap berhati-hati saat melintasi area yang masih tergenang, mengingat sisa-sisa air dan lumpur dapat membuat permukaan jalan menjadi licin. Tiga desa yang terdampak langsung oleh luapan air ini, yakni Desa Beringin, Desa Rawa Urip, dan Desa Bendungan, masih memantau kondisi.

Banjir ini menandai perlunya perbaikan sistem drainase di daerah ini. Pihak berwenang diharapkan meninjau kembali tata letak jalan dan jalur drainase agar tidak terjadi tumpukan air lagi di masa depan.

Situasi ini menegaskan betapa pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan petugas dalam menghadapi cuaca ekstrem. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti petunjuk pengendalian lalu lintas yang telah diterapkan.

Banjir CirebonPanturaSungai CimanisDesa Rawa UripDrainaseLumpurKontraflow

Komentar

Memuat komentar...