Banjir Ir Soekarno, Solo Baru Guncang Kemacetan Bacem-Gading

Surya B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Banjir Ir Soekarno, Solo Baru Guncang Kemacetan Bacem-Gading

Gambar atau konten salah?

Arus lalu lintas di Jalan Ir Soekarno, Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, terhambat parah akibat banjir yang menenggelamkan kawasan Simpang Empat Patung Pandawa. Kemacetan juga meluas ke jalur alternatif Bacem‑Gading, yang menghubungkan Kota Solo dengan Sukoharjo.

Petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan Sukoharjo masih menata lalu lintas pada Rabu 15 April 2026. Hingga pukul 09.00 WIB, banjir masih terlihat di ruas Jalan Ir Soekarno, dari Sukoharjo menuju Solo, serta di komplek elit Sektor 1. Air menempati jalan setinggi sekitar 10‑20 sentimeter. Kendaraan masih dapat lewat, namun arus melambat.

Kasat Lantas Polres Sukoharjo, AKP Doohan Octa Prasetya, menyatakan bahwa pihaknya terus mengatur lalu lintas untuk mengurai kepadatan. Ia mengatakan, “Terpantau di Solo Baru padat merayap akibat adanya genangan air dari Bundaran Pandawa hingga Tanjung Anom.”

Doohan menegaskan, “Ketinggian air di Jalan Ir Soekarno masih dapat dilalui kendaraan, sehingga belum dilakukan penutupan jalan.” Ia juga menambahkan, “Bacem‑Gading juga terdapat beberapa kendala, karena macet karena dipakai pengendara.”

Menurut catatan, banjir di Jalan Ir Soekarno dimulai pada Selasa 14 April 2026 pukul 20.00 WIB. Walau hujan sudah reda, genangan air di beberapa titik masih belum surut.

Banjir ini disebabkan oleh luapan anak sungai Bengawan Solo. Beberapa wilayah di Kecamatan Baki dan Grogol, Sukoharjo, terdampak. Air menembus jalan, bahkan di beberapa titik masuk ke rumah warga. Camat Grogol, Herdis Kurnia Wijaya, menyebut desa terdampak di Manang, Sanggrahan, Banaran, Cemani, Gedangan, dan Lenganharjo.

Ia menjelaskan, “Banjir terjadi akibat sejumlah anak sungai tidak mampu menampung debit air seperti di Kali Mranggen, Kali Kembang, Saluran Irigasi depan RS dr. Oen, dan Kali Jenes.” Ketinggian air mencapai 30 sentimeter, hanya luberan. Jika ada yang mengungsi, mereka beralih ke rumah tetangga. “Kalaupun ada yang mengungsi, ke rumah tetangganya. Kalau kondisi Sungai Bengawan Solo aman, ini luberan dari barat,” kata Herdis pada malam Selasa 14 April 2026.

Salah seorang warga Sanggrahan, Naharuddin, mengatakan hujan deras turun mulai sekira pukul 15.00 WIB. Air mulai naik ke pemukiman sekitar pukul 19.30 WIB, Selasa 14 April. “Air mulai naik sehabis isya tadi. Paling tinggi 50 sentimeter, sebagian ada yang sudah masuk rumah,” ujarnya. Ia menambahkan, “Banjir terjadi karena anak sungai Bengawan Solo tidak mampu menampung besarnya debit air. Ditambah di kawasan Sanggrahan mendapatkan kiriman dari Gentan.”

“Air kiriman dari Gentan luber ke sungai sampai belakang Konimex,” jelas Naharuddin. Ia menegaskan bahwa banjir di wilayah tersebut disebabkan oleh kombinasi hujan deras dan aliran sungai yang tidak dapat menampung volume air.

Situasi ini menyoroti pentingnya pengelolaan drainase dan pemantauan sungai di daerah yang rawan banjir. Kesiapan petugas lalu lintas dan koordinasi antara kepolisian serta dinas perhubungan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bagi masyarakat dan mobilitas di wilayah Sukoharjo.

banjir Jalan Ir SoekarnoSukoharjoBengawan SoloSimpang Empat Patung PandawaBacem‑Gadingkepadatan lalu lintasanak sungaidrainase

Komentar

Memuat komentar...