Banjir Masih Menenggelam Solo: Tipes dan Joyontakan Terdampak
Gambar atau konten salah?
Banjir masih merendam wilayah di Kota Solo hingga siang hari, terutama di Kelurahan Tipes dan Joyontakan di Kecamatan Serengan. Pemandangan terkini menunjukkan air masih menggenang di halaman rumah warga, meski beberapa sudah mulai kembali ke tempat tinggalnya.
Di Tipes, banjir mulai terdeteksi pada Selasa, 14 Mei 2026 sekitar pukul 21.00 WIB. Damisri (45) mengatakan air mulai masuk ke rumahnya pada Selasa, 14 Mei 2026 sekitar pukul 21.00 WIB. Ketinggian air tadi malam mencapai dada atau sekitar 140 sentimeter. Air baru mulai surut pada Rabu, 15 April 2026 sekira pukul 08.00 WIB. Warga di RT 03 RW 15, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, mengungsi di rumah tetangga sebelum akhirnya kembali ke rumah masing-masing setelah air surut.
Di Joyontakan, banjir juga masih merendam wilayah RW 02, Kecamatan Serengan. Ketinggian air bervariasi, ada yang mencapai pinggang orang dewasa. Beberapa rumah masih terendam hingga 30 sentimeter. Damisri mengungkapkan bahwa banjir sampai masuk ke dalam rumah terakhir terjadi sekitar 4 tahun lalu. Menurut dia, luapan air dari Kali Jenes biasanya hanya merendam jalan. Ia juga menyatakan, “Nggak bisa tidur, orang tua dan anak-anak diungsikan.”
Warga Joyontakan menggunakan masjid An-Nikmah sebagai tempat pengungsian. Anak-anak bermain air di tengah banjir, sementara lansia mencari tempat yang lebih tinggi. “Banjir di tempat saya seperut. Tadi malam jam 22.00 sudah mulai naik airnya, tapi belum masuk rumah, lalu pagi tadi baru masuk rumah. Tadi saya dinaikkan perahu,” kata Tumini (70) yang dievakuasi pakai perahu bersama anaknya. Ia juga membawa berang berharga.
Ririn (nama tidak disebutkan) melaporkan pada Selasa, 14 April 2026 pukul 23.30 WIB bahwa banjir terbilang tinggi namun sempat surut. Namun pagi hari, sekitar jam 07.00 WIB, air kembali naik. “Semalam sempat tinggi, selutut, tapi sempat surut. Jam 07.00 pagi tadi naik. Air masuk rumah saya, cuma semata kaki,” ia ungkap. Ia menambahkan bahwa banjir terakhir kali terjadi pada tahun 2023 lalu, disebabkan luapan anak sungai Bengawan Solo.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, bersama Forkompinda Kota Solo meninjau lokasi banjir di Joyontakan. Saat ini, Forkompinda sedang menggelar rapat kebencanaan di Masjid An-Nikmah. “Kami sedang menyiapkan posko dan koordinasi dengan pihak terkait,” ujar Respati Ardi. Kapolres Solo, Kombes Catur, juga turut memeriksa situasi di lapangan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengungkapkan bahwa penyebab banjir menggenang di sembilan kelurahan, salah satunya karena belum ada talud di sepanjang aliran Sungai Jenes. Sekretaris Daerah (Sekda) Budi Murtono menegaskan bahwa rumah di aliran Sungai Jenes terdampak karena belum ada talud. Ia menyebut RT 03 RW 15, Tipes, Serengan sebagai salah satu wilayah yang terkena dampak.
Data BPBD Kota Solo mencatat sembilan kelurahan terdampak: Pajang, Kratonan, Joyosuran, Tipes, Bumi, Joyontakan, Panularan, Sondakan, dan Laweyan. Budi Murtono mengatakan banjir di Kota Solo sudah mulai surut. “Ya lumayan tinggi ya, semalam ada yang selutut, ada yang sedada. Sudah (surut) hampir rata-rata sudah. Ini tadinya kan karena intensitas air yang tadi malam yang tinggi saja. Ketika ini sudah mulai turun ya ini sudah surut, cuma kan kita antisipasi yang hari-hari berikutnya,” ia tambah.
Untuk mengantisipasi luapan lagi, pihaknya meminta BPBD standby dan membuka posko di daerah rawan. DPUPR diminta mengecek pompa-pompa pembuang air. Budi Murtono juga berencana menjalin komunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk kelanjutan penanganan banjir dari anak sungai Bengawan Solo.
Situasi banjir di Solo menandakan perlunya tindakan preventif yang lebih kuat, termasuk pembangunan talud di sepanjang Sungai Jenes dan pemantauan intensitas air di anak sungai Bengawan Solo. Warga yang terdampak masih menunggu langkah selanjutnya dari pemerintah, sementara beberapa sudah mulai membersihkan bekas banjir di rumah masing-masing. Kegiatan ini berlangsung di tengah kondisi air yang masih menggenang, namun secara bertahap mulai menurun. Warga diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan petugas setempat untuk menghindari risiko lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Berita Terbaru
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Rasa Terbakar Dada: Penyebab Utama dan Tanda Peringatan
Minum 3‑4 Cangkir Kopi Bisa Perlambat Penuaan 5 Tahun
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Operasi Patuh 2026: 14 Hari Tepatkan Lalu Lintas Nasional
Vlahovic Bebas: Arsenal Tertarik, Juventus Tak Berikan Kontrak
