Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai

Dani L. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 147 dibaca
Bisik.id
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai

Gambar atau konten salah?

Warga Sayung di Demak mengeluhkan kenaikan rob setelah pembangunan toll road di wilayah mereka. Pemerintah kabupaten juga mengakui adanya pergeseran rob sejak tol Semarang‑Demak selesai.

Pada 03 Juni 2026, banjir rob terjadi di beberapa titik di sisi utara tol, termasuk Desa Gemulak dan Desa Timbulsloko. Warga melaporkan bahwa banjir rob semakin tinggi sejak tol tersambung.

Seorang lansia, Munawar usia 70 tahun, berasal dari RT 4 RW 7, Dusun Daleman, Desa Gemulak. Ia mengatakan rob di wilayahnya mulai terjadi sejak 2016. Namun beberapa bulan lalu, ia merasa rob semakin parah.

“Semakin parah (saat) bodo niko (Lebaran itu), Idul Fitri,” kata Munawar saat ditemui di kediamannya, Rabu, 03 Juni 2026.

Munawar sempat menaikkan rumahnya agar rob tidak masuk. Ia juga membuat jalan setapak kecil dari tanah uruk di depan rumah untuk akses keluar masuk.

“Pernah niku (rumah ditinggikan), sekali. Kira‑kira setengah meter (hingga) 75 (sentimeter) lah,” jelas Munawar.

Namun setelah tol laut mulai tersambung, ia merasa air menggenang makin tinggi hingga menutup jalan uruknya dan masuk ke dalam rumah.

“Dalane (jalannya tertutup rob sampai) masuk rumah. Geser (robnya) karena niku dibendung jalan tol. Lama‑lama (rob) semakin tinggi,” ujar Munawar.

Munawar berharap ada solusi dari pemerintah. Ia ingin pantai utara segera dibendung menyeluruh agar banjir rob di wilayahnya segera surut.

Permasalahan di Dusun Timbulsloko, Desa Timbulsloko lebih kompleks. Selain terimbas dampak tersambungnya tol laut, pemuda setempat, Roni usia 23 tahun, mengatakan wilayahnya juga mengalami penurunan muka tanah.

“Kalau menurut saya itu ada penurunan (muka tanah) sama ada dari dampak (tersambungnya) tol itu,” kata Roni.

“Dukuh Timbul Sloko kan ini di luar dari jalan tol. Akhirnya air yang mengalir itu melubernya ke sini ke warga‑warga yang di luar tol,” tambahnya.

Roni menyadari penurunan muka tanah saat membandingkan data pasang surut air laut dari BMKG dengan kondisi riil di wilayahnya.

“Sebelum tol kesambung itu, dulu waktu di tahun 2025 itu kalau di BMKG itu 1,1 kan ketinggian 110 cm, untuk akses kami enggak tenggelam,” terang Roni.

“Selama jalan tol itu sudah mulai ketutup, sudah nyambung, di ukuran ketinggian 100 sentimeter aja jalan sudah tenggelam, apalagi 1,1 (meter),” tambahnya.

Roni menjelaskan bahwa rob sudah mulai menggenangi kampungnya sejak 2014. Kondisinya semakin parah seiring waktu berjalan.

“Yang dulunya sawah itu jadi tambak. 2017 itu motor masih bisa masuk kalau pas surut. Tapi yang parah‑parahnya itu di tahun 2019‑2020 itu seperti desa mati, enggak ada akses,” ucap Roni.

Warga yang memilih bertahan di Timbulsloko kemudian mulai beradaptasi dengan banjir rob lewat pendirian jalan dan rumah panggung dari bambu dan papan kayu.

“Sekarang warga juga lebih pintar beradaptasi sendiri karena kalau di (dalam) satu tahun itu panggungnya mulai tenggelam, mungkin warga sudah persiapan untuk meninggikan lagi,” ujar Roni.

Roni juga berharap permasalahan banjir rob di wilayahnya bisa lekas tuntas. Menurutnya, tanggul laut di pantai utara penting dibangun secara menyeluruh.

“Kalau menurut saya sendiri kan (solusinya) tanggul laut ya, dari orang yang hidup di pesisir itu memang sangat penting,” harap Roni.

Akademis daerah Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, menjelaskan bahwa sebagian besar proyek tol laut sudah rampung. Hal itu membuat air bergeser ke arah timur.

“Pascadengan adanya tanggul laut, tol dan sekarang ini juga tanggul laut tol ini sudah sebagian besar juga sudah jadi, air itu akan lari ke arah yang tanah yang lebih rendah, bergeser ke arah timur,” kata Akhmad.

Akhmad menyebut penanganan rob ini semestinya dilakukan secara menyeluruh di pesisir Demak. Ia menyatakan bahwa Pemkab Demak telah menyampaikan permasalahan ini ke pihak terkait.

“Ini sudah kita sampaikan juga ke badan otoritas pesisir dan yang ke yang lainnya, karena ini dampak rob ini pasti akan ke timur terus. Maka dari itu penanganan tidak bisa klaster ini selesai, ya kalau bisa ya semuanya, sampai Moro (Morodemak) dan Wedung,” terang Akhmad.

Akhmad menyebut solusi terdekat dari permasalahan rob di Demak adalah pembangunan hybrid sea wall dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pihaknya masih menunggu pelaksanaan program itu.

“Untuk dana provinsi yang saya tahu sudah ada anggaran untuk hybrid sea wall. Nah ini kita tunggu pelaksanaannya untuk yang hybrid sea wall itu,” ujar Akhmad.

Akhmad mengakui bahwa program hybrid sea wall belum bisa menyelesaikan permasalahan rob di Demak secara keseluruhan. Sehingga, pihaknya akan mencari titik‑titik yang tepat agar rob tidak naik.

“Walaupun ini belum bisa menuntaskan semuanya, hanya sebagian. Makanya harus cari tempat‑tempat yang notabenenya memang betul‑betul bisa mengurangi air rob naik. Itu kalau menurut saya,” beber Akhmad.

Ketika disinggung mengenai pelaksanaan program giant sea wall, Akhmad menjelaskan pihaknya belum mengetahui kapan tembok laut raksasa itu bakal dibangun.

“Belum tahu (kapan pembangunan giant sea wall), ini kan dari pusat kan juga mapping ya, mapping antara Banten sampai Jawa Timur,” kata Akhmad.

Meski demikian, Akhmad berharap Demak menjadi wilayah yang diprioritaskan dalam pembangunan giant sea wall. Menurutnya, kondisi di Demak paling parah dibandingkan wilayah lain.

“Tapi kita juga mengusulkan, untuk sementara ini yang saya lihat sepanjang jalan Pantura yang paling parah juga Demak. Semoga (Demak menjadi prioritas),” ujar Akhmad.

Situasi ini menegaskan bahwa pergeseran rob di pesisir Demak terkait erat dengan pembangunan tol laut dan kebutuhan infrastruktur perlindungan pantai. Warga di Sayung dan Timbulsloko menuntut solusi cepat, sementara pemerintah menunggu rencana pembangunan tanggul laut dan hybrid sea wall. Perubahan arah aliran air dan penurunan muka tanah menambah kompleksitas, menuntut pendekatan terpadu agar banjir rob dapat dikendalikan secara berkelanjutan.

RobToll lautDemakTanggul lautHybrid sea wallBanjirPenurunan muka tanah

Komentar

Memuat komentar...