Banjir Semarang Barat Hancurkan Rumah, Warga Dukung Bantuan

Ningsih R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Banjir Semarang Barat Hancurkan Rumah, Warga Dukung Bantuan

Gambar atau konten salah?

Wati (44) tinggal di Jalan Jembawan 1, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Pada 14 Mei 2026 malam, banjir melanda wilayah tersebut, menurunkan talud di jalan yang sebelumnya amblas menjadi hancur total. Rumah Wati, yang berdiri tepat di depan talud, pun terendam air.

Pada hari itu, Wati baru saja pulang kerja setelah magrib. Ia sedang menyiapkan makanan untuk keluarganya ketika air sungai setinggi dada mulai masuk ke dalam rumah. Ia dan suaminya, Didik Praja (47), harus berlari-lari keluar karena banjir sudah setinggi leher orang dewasa.

“Hari Jumat saya pulang kerja. Nyiapin anak-anak masak di dapur. Terus sudah selesai mau taruh di meja, air sudah masuk. Terus kita lari‑lari sudah sedada. Terus ke masjid sudah seleher,” kata Wati saat ditemui pada Minggu 17 Mei 2026.

Di lokasi, warga sekitar bergotong royong memikul karung berisi pasir. Mereka menata karung tersebut di sepanjang sungai yang dulu menjadi Jalan Jembawan 1. Ibu‑ibu berkumpul menyiapkan sarapan bagi para warga, termasuk Wati.

Wati baru saja menandatangani kontrak kerja pada 14 Mei 2026 di sebuah perusahaan garmen. Sekarang ia harus kehilangan seragam dan tanda pengenal kerjanya. Barang elektroniknya juga rusak akibat banjir.

“Semua habis dari seragam, baju, sepatu. Kayak kulkas dan lemari itu jempalik‑jempalik (terbalik). Setrika, magicom, kulkas, rusak semua, gak bisa dipakai. Terus saya kerja baru dikontrak,” terangnya.

Ia bingung bagaimana akan bekerja besok. Wati mengatakan ia akan menjelaskan kondisinya kepada pihak perusahaan sambil berharap mendapat pengertian.

“Terus saya konfirmasi ke PT‑nya, saya kan baru dikontrak jadi nggak tahu bisa atau nggak (pergi bekerja). Saya izin dulu beberapa hari,” tuturnya.

Suami Wati, Didik, menjadi tulang punggung keluarga dengan membuka jasa pijat refleksi. Namun, sebagian pakaian keluarga terbawa banjir, sisanya kotor dan menghitam dipenuhi lumpur. Anak bungsu Wati hanya mengenakan kaus.

“Yang anak kecil kemarin sampai pakai kaos oblong tuh, nggak pakai celana karena nggak ada celana. Saya dipinjami Bu RT 1. Ayahnya (Didik) dikasih kaos sama sarung pinjam dari masjid. Seadanya, benar-benar seadanya,” terang Wati.

Anak sulung Wati, Mufidah (10), menempuh kelas 3 MI. Pada 29 Mei 2026, Mufidah harus mengikuti ujian semester. Namun seragam sekolahnya juga hilang terbawa banjir.

“Sepatu anak‑anak (hilang) besok sekolahnya, soalnya mau tes (ujian semester) tanggal 29 yang MI. dia kan seragam nggak ada semua (terbawa banjir),” kata Wati.

Ia berencana memberi tahu sekolah tentang kehilangan seragam anaknya. Buku‑buku sekolah juga basah setelah banjir.

“Segera diperbaiki pemerintah,” harapnya.

Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono, menyebut ada 30 warga dari 8 kepala keluarga yang mengungsi. Rumah delapan KK tersebut berada di pinggir talud yang hilang terbawa banjir.

“Yang terdampak ini ada sebenarnya ada 8 KK nggih. Dari 8 KK total totalnya 30 orang. Untuk tempat pengungsian hari pertama kemarin di Masjid Al‑Hikmah, tetapi untuk kemudian langsung ke rumah‑rumah saudaranya,” sebut Parjono.

Perangkat kelurahan mengirimkan uang tunai ke korban banjir. Pemerintah setempat juga menyediakan logistik dan dapur umum. Parjono menjelaskan bantuan yang sudah diterima.

“Alhamdulillah dapat bantuan dari Ibu Wali Kota lewat Dinas Sosial, kemudian dari BPBD, kemudian dari PMI, dari kecamatan. Ini mendapatkan bantuan dari kecamatan kemarin logistik untuk dapur umum ini juga sudah disiapkan di sini,” ungkapnya.

Ia juga menginformasikan koordinasi dengan RT RW di wilayah Kelurahan Kalibanteng Kulon untuk meminta bantuan pakaian bekas pakai dan perlengkapan sekolah. Uang tunai juga disalurkan oleh perangkat kelurahan.

“Kemarin kami share kepada lembaga RT RW yang ada di wilayah Kelurahan Kalibanteng Kulon untuk seikhlasnya berkenan memberikan bantuan pakaian bekas pakai, kemudian perlengkapan sekolah. Uang tunai dari perangkat kelurahan,” lanjutnya.

Parjono menegaskan koordinasi dengan Dinas Sosial dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Semarang terkait bantuan yang dibutuhkan warga.

“Kemarin kami sudah koordinasi dengan Dinas Sosial, termasuk ke kantor Kesra,” ucapnya.

Situasi ini menyoroti dampak banjir pada kehidupan sehari‑hari warga. Banjir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu pekerjaan, pendidikan, dan kebutuhan dasar keluarga. Upaya gotong‑royong dan bantuan pemerintah menjadi kunci bagi pemulihan yang cepat.

Banjir SemarangJalan JembawanTaludKontrak kerjaPengungsianBantuan pemerintah

Komentar

Memuat komentar...