Banjir Solo Barat Surut, Timur Terendam Lagi, Siaga Merah

Wati N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Banjir Solo Barat Surut, Timur Terendam Lagi, Siaga Merah

Gambar atau konten salah?

Di Kota Solo, banjir yang sempat melanda bagian barat mulai surut, namun daerah timur kini kembali terendam akibat Sungai Bengawan Solo yang berada di status siaga merah.

Menurut Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Solo, Dwi Ari Daryatmo, sejak malam tadi sembilan kelurahan sudah terendam. Kondisi banjir di wilayah tersebut berangsur‑angsur mulai surut.

“Tadi malam ada 9 kelurahan yang terdampak banjir, ada beberapa kelurahan yang sudah surut di sisi barat seperti Pajang, Laweyan, Sondakan, dan ini Tipes sudah mulai surut,” kata Ari kepada awak media di Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Rabu, 15 April 2026.

Banjir di bagian barat disebabkan oleh luapan sejumlah anak sungai dari Sungai Bengawan Solo. Namun, pada hari ini sungai tersebut berada di status siaga merah, sehingga menimbulkan titik banjir baru di bagian timur, seperti di Kecamatan Pasarkliwon dan Jebres.

“Tadi malam (yang parah) di Pajang, dan Tipes, hari ini di Joyotakan. Dan ini Bengawan Solo tinggi, akibatnya ada dua tambahan di Kedung Lumbu (Pasarkliwon) dan Kentingan (Jebres),” jelasnya.

Di Kelurahan Joyotakan, 15 keluarga inti di dua RT, RW III mengungsi di Masjid An‑Nikmah. Ia menegaskan bahwa BPBD dan Dinsos Solo telah mendirikan dapur umum di Joyotakan, Tipes, dan Kantor Dinsos Solo.

Forkompinda Kota Solo menggelar rapat kebencanaan di Masjid An‑Nikmah, Joyotakan. Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan bahwa lokasi yang banjir menjadi fokus utama pemerintah.

“Kita intervensi seluruh kelurahan untuk membuat dapur umum, dan menghubungi SPPG terdekat untuk menyiapkan makanan warga terdampak. Keamanan barang‑barang yang ditinggalkan, pak camat, pak lurah akan berkoordinasi dengan warga setempat,” kata Respati.

Respati menambahkan bahwa pompa terus disiagakan untuk menyedot banjir di pemukiman warga agar banjir cepat surut. Meski begitu, kondisi cuaca di Wonogiri dan Boyolali tetap menjadi sorotan karena menjadi hulu lonjakan air di Kota Solo.

Ia menyoroti dampak banjir di Solo karena banyaknya drainase dan kali yang daya tampung volume airnya mulai berkurang. Oleh karena itu, rehabilitasi perlu dilakukan. “Ini perlu penindakan tegas, bagi warga yang mungkin bisa dikatakan liar, dan drainase mampet banyak sekali. Setelah musim hujan ini, kita segera lakukan (rehabilitasi) dengan BBWS dan warga. Sungai, selokan kita benahi sesegera mungkin,” pungkasnya.

Banjir di Solo barat mulai mereda, namun banjir baru di timur menuntut intervensi cepat. Pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk mengatasi drainase yang mampet dan menyediakan bantuan sementara bagi warga terdampak.

banjirSungai Bengawan SoloSoloBPBDdrainasesiaga merahdapur umum

Komentar

Memuat komentar...