Banjir Tuntang: Dike Runtuh, Ribuan Rumah Terendam
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Kabupaten Demak, banjir datang tiba‑tiba setelah tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo runtuh pada Jumat, 3 April 2026. Tiga titik kerusakan mengakibatkan air mengalir deras ke permukiman, menimbulkan genangan setinggi satu meter di beberapa rumah.
Kerusakan tanggul terjadi sekitar pukul 11.00 WIB ketika debit air, dipicu hujan deras, tidak dapat ditahan. Rofiq, perangkat desa Trimulyo, menjelaskan bahwa lebar tanggul yang jebol mencapai sekitar 15 meter di dua titik, satu di RT 1 RW 4 berukuran 10 meter dan satu lagi di RT 1 RW 5 berukuran 15 meter. Tanggul yang jebol ini mengakibatkan banjir merendam rumah warga hingga setinggi satu meter.
Di Desa Tlogorejo, warga merasakan dampak serupa. Air banjir mulai menggenangi wilayah sejak Jumat, 3 April 2026 menjelang sore. Pada pukul 14.30 sore, air naik dengan cepat, mencapai 70 sentimeter dan sudah di atas lutut. Kini, ketinggian air menurun menjadi sekitar 50 cm. “(Mulai banjir) Kemarin sekitar jam 14.30 sore, cepet banget (air naik). 70 sentimeter ada, sudah di atas lutut. Sekarang sekitar 50 cm,” kata Ali, perangkat desa Tlogorejo.
Ali melaporkan bahwa total wilayah terdampak mencakup 6 RW, 19 RT dengan sekitar 70 persen rumah terkena banjir. Ia menambahkan bahwa sekitar 650 KK mengalami dampak, dengan sebagian rumah terendam di dataran rendah. “Ada (banjir yang sampai masuk ke rumah warga), tapi yang di dataran rendah, tingginya seatas polok (mata kaki),” ujarnya.
Pengungsi di Desa Tlogorejo tersebar di beberapa tempat. “Sebagian kecil warga ada yang mengungsi, ada yang tetap di rumah. Ada yang di tetangga, ada yang di sebelah desa, ada yang di Tunjungrejo, ada yang di (Kecamatan) Wonosalam. Kira‑kira (yang mengungsi) 50 jiwa ada,” ungkap Ali. Untuk menanggulangi dampak kesehatan, desa menyiapkan posko kesehatan di balai desa bersama bidan desa, namun belum ada tenaga medis yang datang. “Di sini (balai desa) kita menyiapkan posko kesehatan sama bidan desa, tapi belum ada yang datang,” tambahnya.
Selain merendam permukiman, banjir juga menenggelamkan ratusan hektare sawah. Ali khawatir tanaman padi yang baru memasuki masa tanam akan mati karena terendam lama. “Kalau air lama enggak surut itu tanaman padi mati semua. Ini masa pupuk pertama, umur sekitar 25 sampai 30 hari. (Sawah yang terendam) sekitar 200 hektare khusus Tlogorejo,” pungkasnya.
Di Desa Trimulyo, dampak banjir lebih intens. Rofiq menjelaskan bahwa banjir merendam rumah warga hingga satu meter. “Untuk warga dampaknya jelas, untuk RW 3 itu 4 RT full (terdampak) ketinggian yang masuk rumah satu meter. Terus untuk RW 4 itu 6 RT juga full satu meter. Untuk RW 5 itu 3 RT, terus untuk RW 6 itu ada 5 RT. Terus untuk RW 2 itu ada 3 RT yang terdampak,” terang Rofiq.
Menurut Rofiq, penyebab utama kerusakan tanggul adalah debit air yang terlalu tinggi. Ia menambahkan bahwa hujan malam sebelumnya tidak memengaruhi Kali Tuntang secara langsung, namun hujan di daerah atas, khususnya di Kedungjati (Kabupaten Grobogan), tetap mengalir ke Sungai Tuntang. “Semalam hujan, tapi kalau hujan di sini tuh enggak ngaruh dengan Kali Tuntang. Yang fatal itu kalau hujan di daerah atas, daerah Kedungjati (Kabupaten Grobogan), itu tetap larinya ke Tuntang,” kata Rofiq melalui telepon.
Selain Tlogorejo dan Trimulyo, banjir juga menggenangi wilayah lain di Kecamatan Guntur. Di Desa Grogol, Kecamatan Karangtengah, genangan setinggi lutut sudah mencapai permukiman dan jalan. Di Desa Turitempel, air banjir masuk ke rumah warga. Meskipun tidak separah di Tlogorejo dan Trimulyo, dampak di desa-desa tersebut tetap signifikan.
Pengelolaan tanggul di wilayah ini menjadi perhatian utama. Kerusakan pada tiga titik tanggul menunjukkan perlunya perbaikan dan pemeliharaan rutin, terutama sebelum musim hujan. Pemerintah desa dan kabupaten berencana melakukan evaluasi struktur tanggul serta memperkuat sistem drainase di daerah rawan banjir.
Warga yang terdampak masih menunggu bantuan lebih lanjut. Posko kesehatan di balai desa belum menerima tenaga medis, dan beberapa keluarga masih tinggal di tempat pengungsi sementara. Pihak desa terus memantau kondisi air, berharap banjir segera surut agar rumah dan sawah dapat pulih.
Situasi ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan bencana di daerah pedesaan. Banjir yang melanda Tlogorejo, Trimulyo, dan desa-desa sekitarnya menegaskan perlunya sistem tanggul yang kuat dan respons cepat dari pihak berwenang. Dengan langkah-langkah perbaikan dan koordinasi yang tepat, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai