Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga, Rupiah Diprediksi Menguat

Bayu K. · 2 min baca · 14 hari lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga, Rupiah Diprediksi Menguat

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 % pada 20 Mei 2026. Suku bunga Deposit Facility juga naik 50 basis poin menjadi 4,25 %, sementara suku bunga Lending Facility meningkat 50 basis poin menjadi 6 %. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali stabil dan berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah kenaikan suku bunga ini.

Perry menyatakan bahwa penguatan rupiah mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026. Ia menilai bahwa rupiah saat ini masih undervalued secara fundamental. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh berbagai sentimen global. Faktor-faktor tersebut meliputi kebijakan tarif internasional, konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta kebijakan suku bunga global yang masih ketat, khususnya di AS.

“Dengan harga minyak yang tinggi, pertumbuhan yang global yang menurun, inflasi global yang naik, arah suku bunga moneter di berbagai negara yang cenderung ketat termasuk Fed Fund Rate, suku bunga Yield, US Treasury yang meningkat tinggi dan dolar yang menguat. Itu faktor yang memberikan tekanan kepada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh dunia termasuk rupiah,” jelasnya dalam konferensi pers virtual.

Di sisi domestik, Perry mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah juga dipicu oleh kebutuhan valuta asing (valas) musiman selama periode April hingga Juni. Permintaan valas tersebut terutama berasal dari kebutuhan ibadah haji dan umrah, pembayaran utang luar negeri, serta pembagian dividen perusahaan. “Itu yang kemudian kondisi global yang mengakibatkan capital outflow di tengah permintaan valas domestik hingga Juni memang itu masih tinggi,” tambahnya.

Menurut Perry, kondisi ekonomi nasional tetap kuat untuk mendukung penguatan rupiah. Ia menilai indikator makroekonomi Indonesia masih positif, terlihat dari rendahnya defisit transaksi berjalan, pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, dan inflasi yang terkendali. Selain itu, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas dan menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kebijakan tersebut, menurutnya, berhasil membalikkan arus modal asing yang sebelumnya keluar dalam jumlah besar.

“Kenapa kami meyakini ini akan stabil di bulan Juni dan akan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus? Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, Mei, Juni. Tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” pungkasnya.

Dengan langkah kebijakan ini, Bank Indonesia berharap dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan menekan arus modal keluar. Kenaikan suku bunga acuan diharapkan menambah daya tarik investasi domestik, sementara intervensi pasar valas bertujuan menyeimbangkan permintaan dan penawaran mata uang. Keputusan ini menunjukkan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah kondisi global yang masih menantang.

Bank Indonesiasuku bunga acuanrupiahinflasi globalFed Fund Ratecapital outflowintervensi pasar valas

Komentar

Memuat komentar...