Bank Indonesia Perkuat Risiko Amid Ketidakpastian Global
Gambar atau konten salah?
Industri perbankan nasional di Indonesia sedang memperkuat kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) karena meningkatnya risiko global. Eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat menambah ketidakpastian, menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah.
Hery Gunardi, Ketua Umum Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menegaskan bahwa meski volatilitas eksternal naik, indikator fundamental perbankan domestik tetap solid. Ia menyoroti pertumbuhan kredit yang terjaga, likuiditas memadai, dan permodalan kuat.
“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery, dalam keterangan tertulis, 28 Maret 2026.
Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi yang telah dan terus diperkuat oleh industri perbankan di Tanah Air. Langkah-langkah tersebut meliputi:
- Stress test sektoral yang menilai sektor-sektor sensitif terhadap kenaikan biaya energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.
- Early warning system untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit.
- Penguatan disiplin penyaluran kredit melalui risk‑based pricing.
- Pengelolaan likuiditas dengan optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR).
- Pengendalian eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.
“Langkah‑langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Hery.
Dengan kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah. Perbankan di Indonesia menyesuaikan diri dengan dinamika global, menjaga kestabilan sistem keuangan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan ekonomi yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
