Batik Ciwitan: Ibu Rumah Tangga Dukung Pariwisata Ciampea

Fitri A. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Batik Ciwitan: Ibu Rumah Tangga Dukung Pariwisata Ciampea

Gambar atau konten salah?

Setiap pagi Selasa, di sudut Desa Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, sekelompok ibu rumah tangga terlihat sibuk mengikat dan menjahit kain. Mereka berkumpul sambil memproduksi Batik Ciwitan, salah satu produk wastra yang kini menjadi ikon ekonomi kreatif di desa tersebut.

Kelompok ini didirikan oleh Eka Harijayanti, perempuan asal Bantul, Yogyakarta, yang kini tinggal bersama keluarga di Ciampea. Pada tahun 2012, ia memulai usaha bernama Batik Ciwitan dan Eco Print Lawon Geulis.

“Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari Bahasa Sunda yaitu ‘ciwit’ karena bikinnya diciwit. Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang,” ujar Eka saat ditemui di Perumahan Asri Ciampea, Bogor, Rabu, 28 April 2026.

Awalnya, Eka menjalankan usaha secara mandiri. Namun, ketika pesanan mulai meningkat pada tahun 2017 hingga 2019, ia mulai memberdayakan para ibu rumah tangga secara bertahap. Kini, sudah ada 15 ibu rumah tangga yang bergabung.

Proses produksi dimulai dengan desain atau pola awal yang dibuat oleh Eka. Selanjutnya, ibu-ibu melanjutkannya di rumah masing-masing. Namun, tiga tahun terakhir mereka rutin berkumpul untuk produksi bersama. “Sekarang kami punya jadwal yang teratur, Selasa untuk menjahit dan menyerut kain, Kamis belajar pola, dan Sabtu proses pewarnaan di sanggar,” tuturnya.

Para ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok batik ini sangat cekatan. Mereka telah dilatih oleh Eka untuk menjadi perajin batik, sehingga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari rumah. Sebelumnya, ibu-ibu ini sering merasa jenuh karena tidak ada aktivitas. “Sebelumnya ibu-ibu ini suka jenuh nggak ada aktivitas, jadi daripada hanya sekadar di rumah tanpa tujuan, jadi mereka belajar batik di sini, sambil kumpul-kumpul, nonton drakor,” candanya.

Motif Batik Ciwitan yang dibuatnya bersifat acak dan sangat bergantung suasana hati atau mood dirinya saat menggambar pola. Pengerjaan satu helai kain ukuran 2,5 meter membutuhkan waktu yang terbilang panjang. “Karena setiap kain ukuran 2,5 meter ini dikerjakan secara manual dan harus teliti. Satu kain ini bisa memakan waktu satu hingga tiga minggu pengerjaan, tergantung tingkat kerumitan pola atau desainnya,” jelas Eka.

Setelah selesai, batik ini dijual dengan harga kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 750 ribu per lembarnya. Karena peminatnya memang kalangan khusus yang mencari keunikan dari batik, harga tersebut dianggap wajar. “Kemudian batik ini kami jual dengan harga kisaran Rp 200 ribu sampai Rp 750 ribu per lembarnya. Karena peminatnya memang kalangan khusus yang mencari keunikan dari batik,” tambahnya.

Usaha Batik Ciwitan semakin berkembang sejak Desa Benteng bergabung menjadi Desa BRILiaN, binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hal ini dikarenakan Batik Ciwitan sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan. “Alhamdulillah, keberadaan kami makin diakui setelah Desa BRILiaN ini. Sanggar Batik kami kini jadi destinasi wajib jika ada kunjungan ke desa,” tuturnya.

Sanggar Batik Ciwitan rutin dikunjungi setiap tahunnya baik oleh wisatawan mancanegara maupun domestik. Mereka datang tidak hanya membeli produk tapi juga melihat langsung proses Batik Ciwitan seperti mengikat, menjahit, hingga pewarnaan. “Ya. Mulai dari beberapa sekolah, instansi, terus waktu itu dari mahasiswa-mahasiswa luar negeri dari Peru, Jepang, Amerika. Mereka ke sini belajar Batik Ciwitan,” ungkapnya.

Dalam sebulan, rata‑rata kunjungan dapat menghasilkan penjualan 10 sampai 20 kain. “Jadi dalam sebulan, rata-rata dari kunjungan bisa terjual 10 sampai 20 kain,” imbuhnya.

Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, menambahkan bahwa Batik Ciwitan Lawon Geulis merupakan salah satu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) unit Desa Wisata Benteng. Usaha ini turut mendapat manfaat dana hibah Desa BRILiaN sebesar Rp 200 juta dari Rp 1 miliar yang diterima Desa Benteng pada tahun 2023. Dana tersebut diberikan dalam bentuk sarana dan prasarana sanggar untuk melengkapi kebutuhan membatik. “Melalui program Desa BRILiaN, mereka mendapat bantuan berupa alat dan bahan, seperti kain, canting, cap, dan meja. Selain itu, ada rak penyimpanan, bahan pewarna dan perlengkapan untuk batik lainnya,” terangnya.

Di sekitar area sanggar batik ini juga dibangun gapura kampung tematik, sebagai penanda bahwa binaan Desa BRILiaN. “Di sekitar area sanggar batik ini juga dibangun gapura kampung tematik, ini sebagai penanda bahwa binaan Desa BRILiaN,” jelasnya.

Di kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengungkapkan program Desa BRILiaN mengacu pada sejumlah aspek Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Empat fokus utama program tersebut meliputi: penguatan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan/atau koperasi desa sebagai penggerak ekonomi lokal; penerapan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memperluas akses pasar produk desa; penguatan aspek keberlanjutan (sustainability) untuk membangun desa yang tangguh dan berdaya saing; dan pengembangan inovasi agar desa mampu tumbuh secara kreatif dan adaptif terhadap perubahan. “Empat fokus utama itu menjadikan program Desa BRILiaN menjadi salah satu strategi utama pemberdayaan BRI untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi di tingkat lokal,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Program Desa BRILiaN terus menjangkau semakin banyak desa di berbagai wilayah Indonesia. Tercatat sepanjang tahun 2025, BRI telah membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN di seluruh Indonesia. “Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Melalui kolaborasi antara para perajin lokal, dukungan BRI, dan minat wisatawan, Batik Ciwitan menjadi contoh bagaimana produk tradisional dapat dipertahankan sekaligus beradaptasi dengan pasar modern. Usaha ini tidak hanya memberi penghasilan tambahan bagi ibu rumah tangga, tetapi juga memperkuat identitas budaya desa dan menarik perhatian wisatawan. Dengan fasilitas yang terus ditingkatkan dan dukungan dana hibah, Batik Ciwitan siap melanjutkan perjalanan kreatifnya, menjadikan setiap helai kain sebagai cerita yang terikat pada sejarah dan inovasi.

Batik CiwitanDesa BentengDesa BRILiaNBUMDesaWisatawanDigitalisasiUMKM

Komentar

Memuat komentar...