Batu Stonehenge Terbukti Dipindahkan Manusia dari Skotlandia
Gambar atau konten salah?
Stonehenge, monumen batu besar yang terletak di Inggris selatan, telah lama menjadi misteri bagi para peneliti. Meski berada jauh dari asalnya, batu-batu utama di pusatnya ternyata berasal dari wilayah Skotlandia timur laut, sekitar tujuh ratus kilometer ke utara.
Pada 01 Januari 2024, sekelompok ilmuwan geologi menemukan bahwa batu‑batu Stonehenge tidak berasal dari batuan lokal di Inggris maupun dari Perbukitan Preseli di Wales barat daya. Analisis kimia menunjukkan kesamaan kuat dengan Batu Pasir Merah Tua yang ditemukan di Cekungan Orcadian di ujung paling utara Kepulauan Inggris.
Tim tersebut meneliti apakah batu‑batu tersebut bisa dipindahkan ke selatan melalui pergerakan gletser. Namun, perhitungan mereka menunjukkan hal itu tidak masuk akal. Gletser selama satu juta tahun terakhir cenderung bergerak ke utara, berlawanan arah dengan pergerakan batu tersebut.
Di sisi lain, peneliti dari Curtin University di Australia memanfaatkan penanggalan butiran mineral dan pemodelan lapisan es untuk mengevaluasi kemungkinan lain. Mereka sepakat bahwa gletser tidak menjelaskan seluruh perjalanan batu tersebut.
Model mereka menunjukkan bahwa gletser mungkin telah membantu memindahkan bebatuan dari Skotlandia ke Doggerland, sebuah wilayah yang dulunya terhubung dengan daratan Inggris. Pergerakan ini dapat mempersingkat jarak sekitar tiga ratus kilometer, namun masih tersisa empat ratus kilometer yang belum terjelaskan.
Anthony Clarke, peneliti di Curtin University, menjelaskan: “Model kami menunjukkan gletser mungkin telah mengangkut bebatuan sebagian jalan selama Zaman Es terakhir — berpotensi sejauh Dogger Bank di Laut Utara — tetapi tidak sampai ke Inggris selatan, yang berarti batu tersebut masih perlu dipindahkan ratusan kilometer oleh manusia.”
Ia menambahkan, “Alih‑alih dibawa secara alami oleh es, bukti menunjukkan pergerakan yang disengaja dan direncanakan dengan cermat melintasi lanskap yang menantang dan beragam.”
Keberadaan bukti ini menimbulkan pertanyaan mengapa tidak ada otoritas terpusat atau peta yang dapat memandu pergerakan batu tersebut. Kemungkinan besar, operasi ini memerlukan perencanaan dan pelaksanaan bertahap, dengan sebagian transportasi melalui sungai dan garis pantai, sementara sebagian besar tetap dilakukan di darat.
“Mengangkut batu sebesar ini dalam jarak yang begitu jauh membutuhkan perencanaan, koordinasi, dan pemahaman mendalam tentang lanskap, belum lagi tekad yang luar biasa,” kata Clarke. “Ini menunjukkan bahwa batu tersebut kemungkinan dipindahkan secara bertahap, berpotensi menggabungkan pengangkutan darat dengan transportasi sungai atau pantai jika memungkinkan.”
Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Quaternary Science, menambah lapisan baru pada pemahaman kita tentang bagaimana manusia kuno dapat memindahkan batu-batu besar tanpa teknologi modern.
Dengan fakta bahwa batu Stonehenge berasal dari Skotlandia, dan bukti pergerakan manusia yang terencana, kita dapat melihat bahwa peradaban kuno memiliki kemampuan logistik yang lebih kompleks daripada yang pernah diperkirakan. Penelitian ini membuka pintu bagi studi lebih lanjut tentang mobilitas dan teknologi di zaman prasejarah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Jonatan Christie Kalahkan Teeraratsakul, Raih Open 2026
eSIM Kurosim: Pilihan Hemat Internet Untuk Traveler Jepang
KAI Tambah Frekuensi LRT Jabodebek, Uji Coba KLB 08–12 Juni
BPJT Siapkan Uji Coba MLFF Tanpa Tol Setop Menilai Efisiensi
Pemindahan 1.555 Narapidana Lapas Jambi ke Gedung Baru
Rapor Genap 2025/2026: Catatan Wali Kelas Memotivasi Siswa
PSGJ Bersinar di Stadion Watubelah, Target Liga 3 Nasional
