BBW Bali Jaga Harga Buku Rp5.000, Walau Dolar Naik
Gambar atau konten salah?
Badung, di tengah kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, menimbulkan kekhawatiran tentang harga barang impor. Di sinilah Big Bad Wolf (BBW) Bali berupaya menjaga agar buku tetap terjangkau. Bahkan, pengunjung masih bisa membeli buku mulai dari Rp 5 ribu.
Country Director BBW Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menegaskan komitmen mereka untuk menjaga buku dapat diakses oleh semua kalangan tanpa menambah beban biaya bagi pelanggan. “Nah, sesuai komitmen kami, kami ingin bikin buku jadi sesuatu yang bisa diakses semua kalangan masyarakat. Meskipun semuanya lagi naik, tapi harga kami nggak naik,” ujar Marthius pada hari Senin, 25 Mei 2026.
Menurutnya, BBW memiliki beberapa strategi agar kenaikan biaya operasional tidak langsung tercermin pada harga jual buku. Salah satunya adalah mendorong efisiensi di berbagai lini, mulai dari operasional hingga rantai distribusi. “Kalau mengenai margin, masih banyak optimisasi yang bisa kita lakukan sebelum kita mengorbankan customer. Jadi seperti operation efficiency, supply chain efficiency, logistic efficiency, itu yang banyak kita lakukan di belakang supaya kita bisa keep offering kita ke customer,” jelasnya.
Selain efisiensi, BBW juga memperluas skema kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga harga tetap kompetitif. “Jadi lebih banyak kita memutar ide untuk construct another type of partnership deal dengan supplier, dengan payment intermediator. Jadi sebenarnya banyak,” lanjutnya.
Optimisme terlihat dari antusiasme pengunjung pada hari pertama pembukaan BBW Bali. Sejak pagi, warga datang berbondong-bondong membawa troli untuk berburu buku. Suasana riuh menandai keberhasilan strategi penjualan yang memudahkan akses.
Founder Big Bad Wolf International, Andrew Yap, menilai penyelenggaraan bazar buku di pusat perbelanjaan sebagai langkah efektif untuk mendekatkan buku kepada masyarakat. Menurutnya, konsep bazar di mal memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan digelar di convention center. “Banyak orang tidak memiliki buku di pikiran mereka karena buku tidak ada di mana-mana. Tapi jika Anda meletakkan buku di depan mereka, atau di depan anak-anak, mereka akan tertarik,” ujar Andrew.
Di sisi lain, Marthius tetap optimistis minat baca masyarakat akan terus tumbuh meski ekonomi sedang bergejolak. Ia berharap kondisi ekonomi bisa segera membaik. “Ya, kami masih sangat optimis, ya. Karena kalau kata orang, harusnya nggak turun-turun lebih jauh dari ini. Harusnya rebound, lah,” imbuhnya.
BBW Bali menunjukkan bahwa meski pasar berubah, strategi efisiensi dan kerja sama dapat menjaga harga buku tetap bersahabat. Pendekatan ini memberi contoh bagaimana bisnis dapat menyesuaikan diri tanpa mengorbankan aksesibilitas bagi konsumen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
