Bediding Malang: Suhu Malam Menyakitkan, BPBD Peringat

Bambang W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Bediding Malang: Suhu Malam Menyakitkan, BPBD Peringat

Gambar atau konten salah?

Bediding adalah fenomena cuaca yang membuat udara terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari, sementara siang masih terik dan kering. Di Malang, warga mulai merasakan suhu yang menusuk, sehingga banyak yang memakai jaket tebal. Meskipun cuaca siang tetap panas, malam tiba membawa dingin yang terasa lebih tajam.

Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bediding merujuk pada masa peralihan menuju musim kemarau yang ditandai udara lebih dingin dari biasanya. BPBD Kota Probolinggo juga menjelaskan bahwa bediding adalah fenomena suhu udara dingin yang biasanya terjadi pada malam hingga pagi, sementara siang tetap panas dan kering.

Fenomena ini umum di wilayah selatan garis khatulistiwa, mulai dari Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Di Jawa Timur, bediding sering terjadi di Malang dan sekitarnya.

Penyebab bediding terkait erat dengan pola musim dan pergerakan angin di Australia dan Indonesia. Pada pertengahan tahun, Australia mengalami musim dingin, sehingga tekanan udara di benua tersebut menjadi lebih tinggi dibanding wilayah Indonesia. Perbedaan tekanan ini memicu terbentuknya angin muson timur, atau muson dingin Australia, yang bergerak dari Australia menuju Indonesia. Angin ini membawa massa udara kering dan dingin, memengaruhi suhu di wilayah selatan Indonesia.

Selain itu, posisi matahari yang berada jauh di utara garis khatulistiwa membuat wilayah selatan khatulistiwa menerima panas lebih sedikit. Akibatnya, suhu udara di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi lebih rendah dibanding biasanya. Pada musim kemarau, awan sangat sedikit, sehingga panas matahari yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas kembali ke atmosfer saat malam tiba. Suhu udara menurun drastis menjelang dini hari hingga pagi hari.

Selasa, 2 Juni 2026, BPBD Kota Malang mengingatkan masyarakat bahwa bediding tahun ini berpotensi terasa lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, menjelaskan bahwa kombinasi musim kemarau dan faktor iklim global memperkuat kekeringan udara. Menurutnya, minimnya tutupan awan menjadi penyebab utama suhu malam turun lebih drastis. “Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok,” ujar Prayitno kepada wartawan. Ia juga menambahkan, “Akibatnya, suhu udara pada dini hari hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.”

Meski bediding merupakan fenomena alam yang normal, ia tetap dapat menimbulkan dampak bagi masyarakat. Udara dingin yang berlangsung lama meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan seperti asma. Untuk menghadapi bediding, masyarakat disarankan menjaga suhu tubuh tetap hangat, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga daya tahan tubuh, serta rutin memantau prakiraan cuaca dari BMKG dan instansi terkait. Petani dan peternak di wilayah dataran tinggi juga perlu melakukan mitigasi sejak dini untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman maupun ternak akibat suhu dingin ekstrem.

Bediding juga dapat memicu embun upas di wilayah dataran tinggi. Suhu udara dapat turun hingga mendekati titik beku, sehingga embun es menempel pada permukaan tanaman. Menurut Prayitno, kondisi tersebut dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan hingga gagal panen. “Ancaman embun upas di dataran tinggi, suhu bisa mencapai 0 derajat, yang mana bisa memicu embun es pada daun. Kondisi itu bisa mengakibatkan tanaman membusuk dan mati kering atau gagal panen,” jelasnya.

Secara umum, bediding bukanlah fenomena cuaca yang berbahaya. BMKG menjelaskan bahwa suhu yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari merupakan karakteristik umum musim kemarau di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, masyarakat tetap perlu menyesuaikan aktivitas dan menjaga kondisi tubuh saat bediding datang, agar tidak mudah terserang penyakit akibat perubahan suhu yang cukup ekstrem.

Fenomena bediding, yang muncul setiap musim kemarau, memengaruhi kehidupan sehari‑hari di Malang. Dari penyesuaian pakaian hingga perencanaan aktivitas, warga harus memperhatikan perubahan suhu yang drastis. Di sisi lain, petani dan peternak di dataran tinggi harus mempersiapkan diri menghadapi embun upas yang dapat merusak tanaman. Dengan pemahaman tentang penyebab dan dampak bediding, masyarakat dapat mengambil langkah sederhana untuk melindungi kesehatan dan produksi pertanian mereka.

BedidingSuhu Dingin MalamMusim KemarauAngin Muson AustraliaBPBD MalangEmbun UpasRisiko KesehatanMitigasi Petani

Komentar

Memuat komentar...