BEI 15 IPO, 1 Saham Terbit, 40 EBUS, 55T Triliun Dana
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 15 perusahaan yang sedang menunggu proses pencatatan saham, atau Initial Public Offering (IPO), hingga tanggal 10 April 2026. Dari jumlah tersebut, 11 perusahaan masuk kategori jumbo.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa 11 perusahaan tersebut memiliki aset skala besar, yaitu di atas Rp 250 miliar. Empat perusahaan lainnya memiliki aset skala menengah, yakni antara Rp 50 miliar dan Rp 250 miliar. Ia menambahkan, “Hingga saat ini, terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” dalam keterangan tertulis yang dikutip pada hari Sabtu, 11 April 2026.
Antrean IPO didominasi oleh sektor kesehatan dengan empat perusahaan, diikuti oleh consumer non-cyclicals dengan tiga perusahaan. Sisa perusahaan berasal dari sektor consumer cyclicals, infrastruktur, teknologi, energi, dan keuangan.
Hingga 10 April 2026, BEI hanya mencatat satu perusahaan yang melantai di bursa melalui IPO, dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp 0,30 triliun. IPO perdana tersebut dilakukan untuk PT BSA Logistic Tbk (WBSA) pada hari Jumat, 10 April. Ia menyatakan, “Sampai dengan 10 April 2026 telah tercatat 1 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan dana dihimpun Rp 0,30 triliun.”
Berbeda dengan saham, BEI telah menerbitkan 50 emisi obligasi dan sukuk, atau Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), dari 33 penerbit. Total dana yang dihimpun mencapai Rp 55,20 triliun. Saat ini masih terdapat 40 emisi dari 28 penerbit EBUS yang berada dalam pipeline penerbitan. Sektor yang terlibat meliputi keuangan dengan 14 perusahaan, infrastruktur dengan tujuh perusahaan, energi dengan tiga perusahaan, serta bahan dasar dan consumer non-cyclicals masing-masing dua perusahaan. Ia menutup dengan, “Sampai dengan 10 April 2026 terdapat 40 emisi dari 28 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline.”
Secara keseluruhan, BEI menunjukkan aktivitas IPO yang terbatas namun beragam sektor, sementara pasar obligasi tetap aktif dengan banyak emisi yang masih menunggu proses. Data ini memberi gambaran tentang dinamika pasar modal Indonesia menjelang akhir tahun 2026.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
TelkomMetra Beralih AdMedika ke Fullerton Health lewat SPA (02 Juni 2026)
GoTo Dihentikan MSCI, Keluar Indeks Mid Cap, Operasi Normal
IHSG Turun 4,11% Jadi 5.941,06, Pasar Menurun ke Zona Merah
Berita Terbaru
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
