BEI Evaluasi Full Call Auction, Pindah ke Continuous Auction
Gambar atau konten salah?
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengevaluasi sistem papan pemantauan khusus atau Full Call Auction (FCA) pada kuartal II 2026.
Evaluasi tersebut masuk rencana kerja setelah seluruh proposal reformasi pasar modal BEI disetujui oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa papan pemantauan khusus dibuat untuk memberi perlindungan kepada investor.
"Papan pemantauan khusus pada saat itu kan dibuat untuk memberikan stewardship atau perlindungan kepada investor dari upaya-upaya pihak tertentu untuk 'manipulasi harga' atas saham-saham yang likuiditasnya rendah, saham-saham yang dengan fundamental yang tidak terlalu baik. Pada saat itu, solusi yang kita miliki adalah papan pemantauan khusus," ungkap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat (27 Maret 2026).
Jeffrey menilai sistem ini perlu dievaluasi karena BEI telah meningkatkan literasi investor dan transparansi pasar, sehingga kondisi saat ini berbeda.
"Kebutuhan papan pemantauan khusus itu sudah bisa kita sesuaikan dengan kondisi kita saat ini. Itu juga janji kami kepada publik bahwa kami akan terus-menerus mereview. Nah kalau memang sebagian tujuan dari papan pemantauan khusus itu sudah bisa dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan lain yang tadi kami sampaikan, ya memang sudah waktunya papan pemantauan khusus itu kami review," jelasnya.
Meskipun tidak disebutkan poin spesifik yang akan dievaluasi, Jeffrey menyatakan bahwa mekanisme perdagangan setelah evaluasi FCA akan diarahkan pada skema continuous auction.
"Rasanya memang sudah tidak perlu di papan pemantauan khusus itu. Artinya memang akan lebih banyak yang kita arahkan kembali kepada continuous auction," pungkasnya.
FCA merupakan mekanisme perdagangan khusus yang diterapkan BEI terhadap saham yang masuk pemantauan khusus. Terdapat 11 kategori emiten yang bisa masuk, termasuk saham dengan harga kurang dari Rp 51, likuiditas rendah, tidak memenuhi batas free float, pailit, atau memiliki ekuitas negatif pada laporan keuangan terakhir.
Pada mekanisme Full Call Auction, perdagangan saham dibatasi dari pukul 09.00-11.30 WIB untuk sesi I, sedangkan sesi II berlangsung hingga 14.30 WIB. Batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) dibatasi maksimal 10%.
Beberapa pihak mengkritik FCA karena dianggap kaku dan membatasi gerak investor. Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa BEI perlu terus menjalankan fungsi pengawasan untuk mencegah aksi goreng saham tanpa menerapkan sistem tersebut.
"Saya tadi menyampaikan bahwa kalau pasar pemantauannya itu terlalu rigid, terlalu berlebihan, maka baru naik sudah kena halt. Padahal kan investor lagi sedang memburu barang itu. Ini kan tentu menimbulkan apa? Menimbulkan kondisi tidak bagus," ujar Misbakhun di Gedung BEI, Selasa (10 Maret 2026).
Dengan evaluasi ini, BEI berharap dapat menyesuaikan perlindungan investor dengan kondisi pasar yang lebih terbuka, sekaligus mengurangi ketergantungan pada mekanisme yang dianggap terlalu restriktif.
Sementara itu, skema continuous auction diprediksi akan memberi fleksibilitas lebih bagi investor dan memperlancar likuiditas saham-saham yang sebelumnya masuk dalam pemantauan khusus.
Penting bagi pelaku pasar untuk mengikuti perkembangan ini, karena perubahan mekanisme perdagangan dapat memengaruhi strategi investasi dan risiko pasar.
Kondisi pasar saat ini menunjukkan peningkatan transparansi dan literasi investor, yang menuntut sistem perdagangan yang lebih adaptif.
Evaluasi FCA pada kuartal kedua 2026 menjadi langkah penting bagi BEI dalam menyeimbangkan perlindungan investor dan efisiensi pasar.
Dengan demikian, BEI akan terus mereview mekanisme yang telah ada, menyesuaikan dengan kebutuhan investor dan dinamika pasar yang terus berubah.
Perubahan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas harga saham, terutama yang memiliki likuiditas rendah.
Konteksnya, evaluasi FCA menunjukkan bahwa BEI mengakui bahwa mekanisme lama sudah tidak sepenuhnya relevan, dan sedang mencari solusi yang lebih sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Prabowo Ganti Pimpinan BGN, Tegaskan Tanpa Toleransi Korupsi
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
