Belanja Pemerintah Q1 2026 Naik 31,4% Jadi Rp815 Triliun
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa belanja pemerintah pada kuartal pertama tahun 2026 telah mencapai Rp 815 triliun, meningkat 31,4 % dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari total belanja tersebut, Rp 610,3 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat, naik 47,7 % dari Rp 413,2 triliun pada kuartal I tahun 2025. Belanja kementerian dan lembaga (K/L) mencapai Rp 281,2 triliun, naik 43,4 % yoy, sedangkan belanja non K/L mencapai Rp 329,1 triliun, naik 51,5 % yoy.
Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp 204,8 triliun, setara 29,5 % APBN, turun 1,1 % dari Rp 207,1 triliun tahun sebelumnya. Belanja K/L dibagi menjadi empat kategori: belanja pegawai, barang, modal, dan bansos. Belanja modal naik paling signifikan, 36,7 % dari Rp 25,9 triliun pada kuartal I 2025 menjadi Rp 35,4 triliun pada kuartal I 2026.
“Kalau lihat dari investasi pembelian barang modal baik pemerintah maupun juga swasta memang mengalami peningkatan,” kata Faisal pada 02 Mei 2026. “Belanja modal di kuartal I naik, tapi memang catatannya di kuartal II ya. Yang kita khawatirkan karena efisiensi mulai dijalankan sejak kuartal II karena dampak dari perang juga. Jadi, itu yang perlu diantisipasi ke depan di kuartal II. Di kuartal kedua itu tekanannya akan jadi besar. Pemerintah perlu melakukan langkah‑langkah antisipatif,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga belanja negara mengingat gejolak ekonomi global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang dapat memengaruhi kondisi fiskal. Menurutnya, realisasi belanja modal ini sejalan dengan realisasi investasi nasional yang ikut mengalami kenaikan, mencerminkan bahwa baik pemerintah maupun swasta banyak menggelontorkan dana untuk pertumbuhan masa depan.
“Perlu diperhatikan itu adalah efektivitas program. Program pemerintah di lapangan itu bagaimana dia mencapai efektivitas baik dalam hal pelayanan masyarakat, peningkatan kesejahteraan maupun pertumbuhan ekonomi,” pungkas Faisal. Ia menegaskan bahwa setiap belanja pemerintah harus lebih tepat sasaran dan efektif. Dengan begitu, setiap rupiah yang dikeluarkan melalui pelaksanaan program dapat memberikan dampak lebih kepada masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Data ini menegaskan bahwa belanja pemerintah di kuartal pertama tahun 2026 berada pada level yang tinggi, terutama di sektor modal. Pemerintah diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini dengan mengoptimalkan efisiensi dan efektivitas belanja, sehingga kontribusi fiskal dapat mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Turun 3,48% di Sesi I, Saham Bank Jatuh Signifikan
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Berita Terbaru
Ekshibisi AI Kembali Jadi Cabang OSN 2026, Siap Menguji Siswa
Puspresnas Ungkap Foto Soal OSN 2026, Ponsel Diizinkan
IHSG Turun 3,48% di Sesi I, Saham Bank Jatuh Signifikan
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
