Bendung Krueng Pase Selesai, Petani Aceh Utara Berbahagia
Gambar atau konten salah?
Petani di Aceh Utara mengungkap rasa syukur ketika rehabilitasi bendung Krueng Pase di Leubok Tuwe selesai dikerjakan dalam waktu 4,5 tahun. Sebelum itu, mereka mengira prosesnya akan memakan waktu 10 tahun.
Rasa syukur itu terungkap saat Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, datang ke sebuah rangkang di pinggir sawah Desa Blang Majron, Kecamatan Syamtalira Bayu, pada 05 Mei 2026. Dody membuka sepatu lalu duduk bersila di atas rangkang bersama para petani. Suasana menjadi hangat dan penuh keakraban.
“Masyarakat di sini selalu berdoa supaya bendung Krueng Pase diperbaiki secepat mungkin. Ketika awal rusak, kami perkirakan selesainya dalam waktu 10 tahun tapi ternyata 4 tahun 6 bulan sudah siap,” kata Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) Desa Blang Majron, Lidan Ahmad di depan Dody.
Selama bendung rusak, petani terpaksa menanam padi dengan sistem tadah hujan, sehingga hasil panen tidak maksimal. Setelah bendung selesai, mereka mulai menggarap sawah kembali. Rencana semai bibit akan dimulai pada 10 Mei 2026 dan masa tanam akan dimulai pada 25 Mei 2026. “Kami sudah bisa menjalankan roda ekonomi kami lagi. Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Presiden Prabowo dan pak menteri yang sudah datang ke sini,” jelas Lidan.
Persamuhan ini dihadiri juga Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang. Lidan meminta agar demplot yang dijanjikan pemerintah daerah seluas 2 hektare ditambah menjadi 5 hektare. Dia juga berharap petani diberikan traktor untuk membajak sawah serta mesin pemotong padi. “Demplot yang diberikan tanggung hanya 2 hektare. Kami minta ditambah 3 hektare sehingga jadi 5 hektare,” ujar Lidan. Menteri Dody mengaku akan menyampaikan permintaan petani terkait traktor ke Menteri Pertanian.
Dody berharap para petani dapat memanen padi minimal 2 kali dalam setahun setelah selesainya pembangunan bendung. Ia menambahkan, “Bendung Krueng Pase ini sudah selesai diperbaiki dan airnya sudah mengairi sawah hampir 9 ribu hektare.”
Sawah yang mengandalkan air di sungai itu tersebar di delapan kecamatan di Aceh Utara: Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Matang Kuli, Syamtalira Aron, Tanah Luas, Nibong, dan Tanah Pasir. Satu kecamatan lainnya adalah Blang Mangat di Kota Lhokseumawe.
Rehabilitasi bendung ini menandai perubahan signifikan bagi petani Aceh Utara. Dengan pasokan air yang stabil, mereka kini dapat kembali menanam padi secara teratur, meningkatkan hasil panen, dan memperbaiki roda ekonomi lokal. Kesiapan bendung dalam waktu singkat juga menunjukkan efektivitas kerja sama antara pemerintah dan masyarakat setempat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
