BGN Klarifikasi 19.000 Sapi Itu Hanya Simulasi MBG

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 120 dibaca
Bisik.id
BGN Klarifikasi 19.000 Sapi Itu Hanya Simulasi MBG

Gambar atau konten salah?

Jakarta, 23 April 2026 – Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, mengklarifikasi bahwa angka 19.000 ekor sapi yang disebutkan dalam pernyataannya tentang kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanyalah simulasi. Ia menegaskan bahwa perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi saja, bukan kondisi harian yang sebenarnya.

Menurut Dadan, perhitungan tersebut dibuat dengan memikirkan skenario di mana semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus memasak menu berbahan daging sapi. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut tidak mewakili kebutuhan nyata setiap hari.

"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," ujar Dadan dalam keterangannya, Kamis (23 April 2026).

Dalam satu kali proses memasak, Dadan menyebutkan bahwa kebutuhan daging sapi di satu SPPG dapat mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram. Angka tersebut setara dengan satu ekor sapi, hanya untuk dagingnya saja.

"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," tambah Dadan.

Meski demikian, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.

Dadan mengingatkan pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober 2025. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, BGN memilih pendekatan fleksibel dalam penyusunan menu MBG, menyesuaikan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah. Dadan menekankan pentingnya memberdayakan potensi lokal agar tekanan konsumsinya tidak terlalu tinggi.

"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," imbuh Dadan.

Dengan strategi ini, BGN berharap dapat menjaga stabilitas harga dan memastikan bahwa program makan bergizi tetap terjangkau bagi semua penerima manfaat.

Dadan HindayanaKepala Badan Gizi NasionalProgram Makan Bergizi GratisSatuan Pelayanan Pemenuhan GiziDaging SapiKebijakan Menu SeragamStabilitas Harga

Komentar

Memuat komentar...