BGN Klarifikasi Angka Sapi MBG: Simulasi, Menu Lokal

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
BGN Klarifikasi Angka Sapi MBG: Simulasi, Menu Lokal

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan bahwa angka 19.000 ekor sapi yang pernah disebutkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanyalah contoh perhitungan simulasi, bukan data harian yang sebenarnya.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” kata Dadan pada Kamis, 23 April 2026.

Dalam penjelasannya, Dadan menambahkan bahwa satu kali proses memasak di satu SPPG dapat memerlukan daging sapi antara 350 hingga 382 kilogram. Angka tersebut setara dengan satu ekor sapi hanya untuk bagian dagingnya.

“Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” tambah Dadan.

Meski demikian, Dadan menegaskan bahwa BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Kebijakan ini diambil untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat mempengaruhi harga di pasar.

Ia juga menceritakan pengalaman ketika peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Menu yang disajikan pada acara tersebut terdiri dari nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

“Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp 3.000,” jelasnya.

Dari pengalaman tersebut, BGN memilih pendekatan fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Menu disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.

“Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” imbuh Dadan.

Dengan strategi ini, BGN berusaha menjaga keseimbangan antara penyediaan gizi yang cukup bagi penerima manfaat dan stabilitas harga bahan pangan di pasar. Pendekatan lokal ini juga memungkinkan penyesuaian menu sesuai ketersediaan bahan di setiap wilayah, sehingga tidak menimbulkan tekanan berlebih pada produsen dan konsumen.

Badan Gizi NasionalMakan Bergizi GratisSPPGsapitelurkebijakan menu lokalharga pangan

Komentar

Memuat komentar...