Biodiesel B50 Mulai Berlaku 1 Juli 2026, Otomotif Siap

Dedi S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Biodiesel B50 Mulai Berlaku 1 Juli 2026, Otomotif Siap

Gambar atau konten salah?

Program biodiesel B50 akan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2026. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), industri otomotif sudah siap mengadopsi campuran bahan bakar nabati atau crude palm oil dengan 50 % solar.

“Kita hanya melihat dari industri otomotifnya ya. Jadi kendaraannya sudah diuji,” kata Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, saat ditemui di GIICOMVEC, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, 08 April 2026.

Ia menegaskan tidak ada kendala dengan arah kebijakan tersebut. Dengan mengacu pada pelaksanaan biodiesel yang dilakukan secara bertahap, mesin diesel tidak akan terpengaruh. Kali ini tidak ada masalah (penerapan B50). Jadi yang B50 ya, tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya kebijakan bertahap dari B5, B10, B15, B20, hingga B40 sudah diuji. Kita antisipasi yang sebelumnya kan bertahap dari B5, B10, B15, B20. Yang terakhir kan sampai B40 kan. Nah, kemudian dicoba ke B50 sekarang. Nah, itu semua persaratannya sudah ada, semua detail sih, ujarnya.

Selama karakteristiknya itu dipenuhi, harusnya tidak ada masalah, tambahnya lagi. Gaikindo meyakini program ini direncanakan untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan mengurangi impor.

“Kemudian ada B50. Itu kan luar biasa penghematannya. Artinya itu 50% bisa digantikan dengan bahan bakar yang terbarukan,” jelasnya.

Langkah ini juga diangkat sebagai bagian dari penghematan BBM di tengah sulitnya pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah. Sebagai bagian dari kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50, ini mulai berlaku 1 Juli 2026, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers daring pada 31 March 2026.

Airlangga menegaskan bahwa Pertamina juga telah siap melaksanakan mandat tersebut. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini akan menghasilkan penghematan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter per tahun.

“Tentu dalam enam bulan ada penghematan dari fosil dan ada penghematan subsidi daripada biodisel yang diperkirakan nilai Rp 48 triliun,” terang Airlangga.

Program ini menunjukkan kesiapan industri otomotif, dukungan pemerintah, dan potensi penghematan signifikan bagi negara. Dengan penggantian 50% bahan bakar, harapannya dapat menurunkan ketergantungan impor dan mengoptimalkan sumber energi terbarukan.

Biodiesel B50GaikindoPenghematan BBMKemandirian EnergiPertaminaKonflik Timur Tengah

Komentar

Memuat komentar...