Bioskop Regent, Ikon Nostalgia Bandung, Menutup 2011
Gambar atau konten salah?
Bioskop Regent adalah nama yang sudah melekat di benak banyak orang Bandung, terutama bagi mereka yang tumbuh pada dekade 1990-an. Gedung ini, yang sebenarnya bernama Wisata Graha, berdiri di lantai tiga dan pernah menjadi pusat hiburan bagi generasi muda kota ini.
Terletak di Jalan Sumatera, bangunan ini berdiri kokoh berseberangan dengan Rumah Sakit Umum Bungsu yang berada di Jalan Veteran. Sejak dibuka pada tahun 1989, Bioskop Regent menjadi magnet bagi para pelajar, mahasiswa, dan warga biasa yang ingin menikmati film dengan harga terjangkau.
Seorang warga Bandung, Dedi (54), mengingat masa keemasan bioskop ini. Ia mengungkapkan, “Bioskop pertama waktu ngedate dengan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Nonton, terus setelah beres makan pizza,” menambahkan, “Jumat (2 April 2024).”
Harga tiket di Regent memang bersahabat. Pada hari Senin hingga Kamis, tiket hanya Rp7.500, sedangkan akhir pekan menuntut Rp15.000. Harga ini membuat bioskop ini menjadi pilihan utama bagi pelajar yang ingin menonton film box office tanpa harus menguras dompet.
Selain film, Regent juga dikenal dengan layanan kuliner. Dedi mengingat, “Seingat saya, sepertinya Regent salah satu bioskop di Bandung yang bisa pesan makanan dari food court dan diantar ke dalam teater.” Layanan ini membuat penonton bisa menikmati pizza, makanan ringan, dan minuman tanpa harus keluar dari ruang nonton.
Di era ketika bioskop lain sudah beralih ke tiket elektronik, Regent tetap menggunakan tiket kertas dan nomor tempat duduk yang ditempelkan dengan stiker manual. Dedi menambahkan, “Dulu, di saat bioskop lain sudah memakai tiket yang dipesan dari komputer, saya masih sempat menonton di sini dengan model tiket kertas biasa dan nomor tempat duduknya masih memakai stiker.”
Gedung Wisata Graha juga menjadi tempat bagi Pink Cadillac Cafe, kafe yang sering dijadikan titik temu sebelum film dimulai. “Dulu ada juga kafe namanya Pink Cadillac kalau tidak salah, tempat janjian kalau mau nonton,” tambah Dedi. Selain itu, Pizza Hut dan Dairy Queen juga pernah menyewa ruang di dalam gedung, menambah keramaian dan variasi makanan.
Memori tentang Regent juga terkait dengan film-film populer yang ditayangkan. Salah satu film yang sering diingat adalah The House of the Spirits yang dibintangi Winona Ryder. Dedi mengingat, “Sangat legend bagi saya itu bioskop. Saya mulai sering menonton di situ saat film The House of the Spirits yang ada Winona Ryder tayang, sekitar tahun 94.”
Seiring waktu, fungsi ruang di dalam gedung berubah. Lantai tengah yang dulunya dihuni gerai makanan beralih menjadi warnet atau warung internet, mencoba menyesuaikan diri dengan minat masyarakat yang semakin tertarik pada dunia digital.
Namun, kemunculan bioskop baru dengan fasilitas modern menimbulkan tantangan besar bagi Regent. Dedi menjelaskan, “Dulu tutupnya itu sepertinya karena sudah banyak bioskop yang lebih bagus di mal-mal seperti sekarang. Jadi orang lebih memilih nonton di bioskop baru itu.”
Perubahan pola konsumsi media juga memengaruhi kunjungan ke Regent. Maraknya DVD bajakan dan kemajuan teknologi internet membuat orang lebih memilih membeli DVD atau menonton film di rumah. “Terus dulu sempat ramai DVD bajakan. Jadi orang-orang berpikir beli DVD saja kalau mau nonton. Murah dan bisa nonton di rumah,” tambah Dedi.
Operasional Bioskop Regent akhirnya resmi dihentikan pada tahun 2011. Sejak saat itu, gedung Wisata Graha tidak dialihfungsikan secara total dan tetap tidak aktif secara komersial. Bangunan ini kini berdiri di tengah modernisasi Bandung yang semakin pesat.
Pengamatan terakhir menunjukkan kondisi fisik bangunan yang kusam. Beberapa kaca jendela sudah pecah, dindingnya dipenuhi coretan mural dan noda. Meski tidak lagi beroperasi, gedung ini tetap menyimpan nilai sejarah bagi mereka yang pernah menghabiskan waktu di sana.
Dengan segala kenangan dan perubahan yang dialami, Bioskop Regent tetap menjadi bagian penting dalam sejarah hiburan Bandung. Ia mencerminkan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi saksi bagi generasi muda, perubahan teknologi, dan dinamika sosial yang terus berubah. Meskipun bangunan ini kini hening, jejaknya tetap hidup dalam ingatan warga kota.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ternyata Miliki Aset Berlimpah
Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Berita Terbaru
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ternyata Miliki Aset Berlimpah
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Enam Pemancing Diselamatkan Setelah Perahu Terbalik Buleleng
Bernardo Silva: Barcelona & Atlético bersaing keputusan 2026
Debat Akhir HIPMI 2026: Kandidat BPP Bersaing Pasar Modal
Kari Minang Depok, Gyudon Jakarta, Diet Rendah Sodium Jadi Tren
Mourinho Jadi Pelatih Real Madrid, Bek Konate & Dumfries
