BNPB Kunjungi Tanggul Jebol di Semarang, Banjir Surut

Yanto K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 101 dibaca
Bisik.id
BNPB Kunjungi Tanggul Jebol di Semarang, Banjir Surut

Gambar atau konten salah?

BNPB mengunjungi lokasi tanggul jebol di Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Kunjungan ini bertujuan memantau dampak banjir dan membahas rencana relokasi rumah warga yang terdampak.

Ketika BNPB tiba, banjir sudah mulai surut. Kepala BNPB, Suharyanto, melaporkan situasi di tanggul Kali Plumbon yang jebol di RT 1 RW 1. 16 Mei 2026 menjadi hari ketika air yang sebelumnya menenggelam halaman rumah warga mulai menghilang.

Tanah yang dulu becek kini bersih. Warga memulai renovasi bangunan yang rusak akibat banjir bandang. Tanggul Sungai Plumbon jebol sepanjang 50 meter, menimbulkan banjir di beberapa permukiman.

“Saya langsung mendapat perintah dari Bapak Presiden, Pak Prabowo Subianto untuk segera bertindak setiap terjadi bencana, termasuk ketika terjadi banjir di Kota Semarang,” ujar Suharyanto di lokasi pada 19 Mei 2026.

Ia menambahkan, “Kalau tadi kita datang melihat kita berbesar hati ternyata setelah sampai di lapangan kondisinya sudah surut Bu Wali. Meskipun sampai tadi malam itu beritanya di media sosial masih tergenang luar biasa.”

Walau banjir mulai surut, BNPB menegaskan bahwa penanganan warga terdampak tetap menjadi prioritas. “Tadi juga saya sempat tanya kepada Bu Wali, kondisi pengungsi informasinya sudah tidak banyak lagi, ada beberapa titik pengungsian, ada dapur umum, tentu saja itu menjadi prioritas kita pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Ia menegaskan, “Kita sepakat bahwa masyarakat yang terdampak bencana mereka sudah mendapat kesusahan dengan terjadinya banjir jangan lagi ditambah dengan kesusahan lanjutan.”

Dalam kunjungan tersebut, BNPB menyerahkan bantuan logistik dan peralatan darurat banjir senilai Rp 324,2 juta kepada Gubernur Jawa Tengah. Korban banjir juga menerima sembako.

“Nanti silakan Bu Wali berkoordinasi terus dengan kami. Biasanya setelah terjadi bencana mungkin saya sebagai kepala tidak lama di titik-titik itu, tapi anggota kami pasti ada di sini sampai situasi bisa kembali pulih,” jelasnya.

Selain itu, BNPB membahas langkah penanganan lanjutan: perbaikan infrastruktur, pembangunan hunian sementara, hingga relokasi warga di kawasan rawan banjir. “Tadi sebelum rapat koordinasi ini kita sudah berdiskusi untuk masyarakat yang terdampak banjir yang harus direlokasi, harus meninggalkan tempat semula,” kata Suharyanto.

Menurutnya, jika warga tidak dipindah dan tetap berada di lokasi tersebut, mereka bisa terkena banjir lagi. “Terlebih, peristiwa tanggul jebol Kali Babon ini bukan hanya terjadi satu-dua kali.”

“Karena kalau di situ lagi bisa terkena banjir lagi atau terkena bencana-bencana lain. Nah, untuk kecepatan, ya, untuk kecepatan kami tawarkan dibangun hunian sementara,” tambahnya.

Sehari sebelumnya, Camat Tugu, Muḥammad Mirzaq Effendi, mengonfirmasi kerusakan tanggul. Ia mengatakan, “Kurang lebih 50 meter nggih untuk robohnya tanggul ini,” saat ditemui di titik tanggul jebol pada 16 Mei 2026.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana. Dengan bantuan logistik dan rencana relokasi, upaya pemulihan di Mangkang Kulon terus berlanjut, sementara warga berusaha memperbaiki rumah dan lingkungan mereka.

BNPBtanggul jebolSemarangbanjirrelokasi wargalogistik bantuankoordinasi pemerintah

Komentar

Memuat komentar...