Boleh Gabung Puasa Qadha Ramadan dengan Dzulhijjah?
Gambar atau konten salah?
Dzulhijjah adalah bulan ke‑12 dalam kalender Hijriah. Bulan ini termasuk salah satu dari tiga bulan haram, bersama dengan Muharram dan Rabi’ul Awal. Karena statusnya, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan ini, terutama pada hari-hari pertama bulan.
Menurut hadits yang diambil dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), anjuran berpuasa di bulan-bulan haram dijelaskan sebagai berikut:
«مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ، كَتَبَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ عِبَادَةَ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ» (HR At‑Thabrani)
Artinya: “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan haram, yaitu hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah Ta'ala akan mencatat baginya pahala ibadah selama tujuh ratus tahun.”
Hadits ini menekankan nilai tinggi puasa di bulan haram. Namun, pertanyaannya muncul ketika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadhan. Apakah ia boleh menggabungkan qadha Ramadhan dengan puasa Dzulhijjah?
MUI Digital menjawab bahwa puasa Ramadhan boleh dilaksanakan bersamaan dengan puasa Dzulhijjah. Jika seseorang melaksanakan qadha Ramadhan pada hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala puasa sunnah tersebut tetap didapatkan.
Fatwa ini juga didukung oleh Imam Al‑Barizi (wafat 738 H), yang dikutip oleh Syekh Abu Bakr Syatha Ad‑Dimyathi (wafat 1310 H):
«الصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمُتَأَكَّدِ صَوْمُهَا مُنْصَرِفٌ إِلَيهَا، بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَتْ إلخ: زَادَ فِي الْإِيْعَابِ وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِى بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيْهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا، نَوَاهُ مَعَهُ أَوْ لَا»
Artinya: “Berpuasa pada hari‑hari yang dianjurkan secara otomatis akan memperoleh keutamaan khusus pada hari‑hari tersebut. Bahkan jika seseorang berniat untuk berpuasa dengan niat lainnya, pahala dari keduanya tetap bisa didapatkan.”
Dalam kitab Al‑I‘ab, Imam Al‑Barizi juga menegaskan bahwa jika seseorang melakukan puasa qadha (Ramadhan) atau puasa lainnya pada hari‑hari yang dianjurkan, maka pahala dari kedua puasa tersebut tetap bisa diperoleh, baik dengan niat puasa sunah maupun tidak. (Hasyiyah I’anah At‑Thalibin [Beirut: Dar Al‑Fikr], vol 2, h 252)
Walaupun demikian, NU Online menyarankan agar orang yang memiliki utang puasa Ramadhan sebaiknya membayar utangnya terlebih dahulu sebelum melaksanakan puasa sunnah. Namun, bila seseorang baru teringat menjelang jadwal puasa Dzulhijjah, sebaiknya ia membayar puasanya di hari‑hari yang dianjurkan berpuasa Dzulhijjah.
Buya Yahya, dalam kajian di Channel Youtube Al‑Bahjah TV, menekankan pentingnya urutan. Ia mengatakan:
«Bagaimana niatnya? Anda niat bayar utang. Jangan digabung dengan niat (puasa sunnah), sebab niat puasa fadhu tidak boleh digabung dengan lainnya.»
Ia menegaskan bahwa puasa qadha Ramadhan bersifat wajib, sedangkan puasa Dzulhijjah bersifat sunnah. Oleh karena itu, lebih baik bayar utang terlebih dahulu.
Berikut adalah contoh bacaan niat puasa qadha Ramadhan di bulan Dzulhijjah, yang diambil dari buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin:
«نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى»
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa.
Artinya: Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala.
Puasa Dzulhijjah dianjurkan dilakukan pada sembilan hari pertama bulan. Berikut niatnya:
- Puasa 1‑7 Dzulhijjah: «نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُوالْحِجَّةٌ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى» – Nawaitu shauma syahru dzulhijjah sunnatan lillaahi ta'aala. Artinya: Aku berniat puasa bulan Dzulhijjah, sunnah karena Allah Ta'ala.
- Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): «نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى» – Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi Ta'ala. Artinya: Saya berniat melakukan puasa sunah Tarwiyah karena Allah Ta'ala.
- Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): «نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى» – Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillaahi ta'aala. Artinya: Aku berniat puasa 'Arafah, sunnah karena Allah Ta'ala.
Dengan demikian, hukum menggabungkan puasa qadha Ramadhan dan puasa Dzulhijjah dapat dipahami sebagai berikut: puasa qadha Ramadhan tetap wajib dan dapat dilaksanakan pada hari‑hari yang dianjurkan berpuasa Dzulhijjah tanpa mengurangi pahala puasa sunnah tersebut. Namun, bagi yang belum melunasi utang puasa, disarankan untuk membayar utangnya terlebih dahulu, kemudian melaksanakan puasa sunnah Dzulhijjah. Ini memudahkan pelaksanaan ibadah sekaligus menjaga kepatuhan terhadap ketentuan wajib dan sunnah dalam Islam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
