BPJS Atur Ring Jantung, Hindari Pemasangan Tidak Perlu
Gambar atau konten salah?
Ring jantung menjadi topik hangat setelah Direktur Utama BPJS Kesehatan mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai bahwa pemasangan cincin tersebut sering dilakukan meski pasien belum memerlukan, dan hal itu dapat menimbulkan risiko komplikasi serta kerusakan jantung lebih cepat.
“Jadi kita tegapkan pedomannya, misalkan seseorang yang sakit jantung bila belum saatnya pemasangan cincin, jangan dengan mudah mau dipasang cincin. Karena pembuluh darah yang diciptakan oleh yang kuasa itu, bisa bertahan lama. Poinnya adalah bila diperlukan dalam serangan jantung, segera dipasang, jangan ditunda‑tunda,” ujar Direktur Utama setelah menghadiri acara penganugerahan di Jakarta Pusat, Kamis 23 April 2026.
Ia menambahkan, “Tapi kalau belum waktunya, jangan mudah mau, rakyat, masyarakat, dipasang, karena bisa menimbulkan komplikasi.”
BPJS Kesehatan menyatakan akan memperbaiki mekanisme atau indikasi penggunaan ring jantung. Hal ini karena tidak semua pasien mengalami masalah yang sama. Sumbernya menyebutkan bahwa perbaikan ini akan menghindari pembayaran biaya yang tidak perlu.
Di rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pekan ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pihaknya sudah berdiskusi dengan pimpinan BPJS Kesehatan baru, dr. Prihati Pujowaskito. Ia menegaskan, “Saya sudah bicara dengan Kepala BPJS Kesehatan dr Pujo, kami sudah mencapai kesepakatan. Karena beliau juga ahli jantung, jadi mengetahui kalau banyak orang dipasang ring padahal tidak perlu.”
“Saya juga agak takut kalau dipasang tapi tidak butuh,” lanjut Budi. Ia menyoroti pentingnya indikator klinis, salah satunya pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), yang mengukur aliran darah di pembuluh jantung. Jika tingkat sumbatan masih di bawah 70%, pasien umumnya belum memerlukan pemasangan ring. Sementara itu, tindakan baru direkomendasikan jika sumbatan melebihi 80%.
Namun, Budi menilai ketentuan tersebut belum sepenuhnya diterapkan di lapangan. Akibatnya, BPJS tetap harus menanggung biaya tindakan yang sebenarnya bisa dihindari.
Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan sepakat melakukan revisi terhadap Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), khususnya terkait prosedur pemasangan ring jantung. “Kita sudah sepakat, akhir Mei nanti akan dilakukan penandatanganan agar semua ini bisa diselesaikan, termasuk penyesuaian aturan indikasi medisnya,” ujar Budi.
Ia berharap langkah ini dapat memastikan penggunaan alat kesehatan lebih tepat guna, sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
Ring jantung, meski sebuah alat yang dapat menyelamatkan nyawa, harus dipasang hanya bila benar-benar diperlukan. Kebijakan baru ini diharapkan mengurangi biaya tak perlu dan meminimalisir risiko bagi pasien. Dengan penyesuaian pedoman, BPJS dan Kementerian Kesehatan berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan medis dan efisiensi anggaran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
BPOM Tegaskan Indonesia Jadi Pemain Utama ATMP Terapi Gen
Peringatan WMO: El Nino 2026 Siap Guncang Indonesia
Penyakit Ginjal Anak Naik, Minuman Manis Bertanggungjawab
Kista Ovarium: Kenali Jenis, Risiko, dan Solusi Laparoskopi
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
