BPOM Jember Telusuri Keracunan Makanan Murid TK Pemeriksaan

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 70 dibaca
Bisik.id
BPOM Jember Telusuri Keracunan Makanan Murid TK Pemeriksaan

Gambar atau konten salah?

BPOM Jember segera menelusuri dugaan keracunan makanan yang menimpa beberapa murid TK di Jember. Program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang diselenggarakan di Jalan Teratai, Kaliwates, menjadi fokus utama. Petugas BPOM mendatangi dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang memproduksi makanan bagi peserta program.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Yusita Harminingsih mengonfirmasi bahwa tim BPOM sudah turun ke dapur SPPG. Ia berkata, “Petugas dari Balai POM di Kabupaten Jember hari ini sudah melakukan penelusuran ke SPPG terkait yang mengolah makanan bagi peserta terdampak.”

Investigasi masih berlangsung. BPOM menunggu hasil lanjutan untuk memastikan penyebab pasti gejala keracunan. Pengambilan sampel makanan akan diserahkan kepada Dinas Kesehatan. Fokus utama BPOM adalah prosedur pengolahan makanan di dapur MBG. “Kami memfokuskan penelusuran pada cara atau prosedur pengolahan makanan,” ujarnya.

Menurut Yusita, potensi keracunan dalam program MBG bisa dipicu oleh banyak faktor. Program ini memproduksi makanan dalam skala besar dan harus didistribusikan ke banyak lokasi sekaligus. “Ini proses yang kompleks, mulai dari pengolahan dalam jumlah besar, distribusi ke lokasi penerima, hingga jeda waktu antara pemasakan dan konsumsi yang berpotensi tidak sesuai SOP,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa setiap dapur MBG atau SPPG wajib memegang teguh standar operasional prosedur (SOP) di setiap tahapan produksi. SOP penting agar investigasi dapat dilakukan dengan cepat jika terjadi insiden darurat. “Setiap proses harus memiliki SOP, sehingga jika terjadi kejadian seperti ini, bisa ditelusuri di tahap mana kesalahan terjadi,” ungkapnya.

Berbasis rentetan kasus keracunan makanan yang pernah ditangani, Yusita menyebut biang keladi paling umum berasal dari kontaminasi mikrobiologi, khususnya bakteri. Bakteri ini dapat menyusup dari peralatan masak, kualitas air, bahan baku, hingga higienitas penjamah makanan. “Kebanyakan kasus disebabkan oleh agen mikrobiologi, terutama bakteri,” terangnya.

Langkah antisipasi baku bagi setiap dapur pengelola MBG adalah mengamankan sampel makanan yang mereka produksi selama 2×24 jam. Sampel ini nantinya akan diuji di laboratorium jika ada laporan keracunan. “Pengujian dilakukan terhadap sampel makanan yang disimpan. Setiap SPPG wajib menyimpan sampel selama 2×24 jam,” tandasnya.

Dengan prosedur ini, BPOM berharap dapat mengidentifikasi titik kesalahan dan mencegah kejadian serupa di masa depan. Proses investigasi ini juga menjadi contoh penting bagi program MBG di daerah lain.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya standar keamanan makanan, terutama dalam program distribusi makanan massal. Kepatuhan terhadap SOP dan pengujian rutin menjadi kunci dalam menjaga kesehatan anak-anak yang menjadi penerima manfaat.

BPOMkeracunan makananprogram MBGSPPGSOPbakterisampel makanan

Komentar

Memuat komentar...