BRIN Pakai AI Gemini untuk Prediksi Cuaca Antariksa Cepat

Eko P. · 2 min baca · 21 hari lalu · 45 dibaca
Bisik.id
BRIN Pakai AI Gemini untuk Prediksi Cuaca Antariksa Cepat

Gambar atau konten salah?

BRIN terus memperbaiki sistem prediksi cuaca antariksa dengan memanfaatkan agentic AI. Pada acara LINEAR – Kolokium Mingguan Pusat Riset Antariksa, yang berlangsung Rabu, 13 Mei 2026, peneliti Tiar Dani menjelaskan perkembangan pesat teknologi ini.

“Kadang kalau misalnya saya pribadi pakai Gemini pagi, siang menjelang sore agak ngaco karena LLM ada context windows, jadi dia akan mengingat ada tokennya. Ada batasan dalam mengingat apa yang sudah dia kerjakan,” terangnya. Ia menekankan bahwa agentic AI masih memiliki keterbatasan memori. LLM seperti Gemini memiliki jendela konteks terbatas, sehingga ketika memproses data berkelanjutan, ia dapat kehilangan informasi penting. Selain itu, AI seringkali halusinasi jika tidak diberi batasan yang jelas.

Meski demikian, BRIN menemukan bahwa manusia tetap diperlukan untuk menambahkan unsur subjektivitas ke dalam proses prediksi. Dengan menggabungkan keahlian ilmuwan dan kemampuan otomatisasi AI, prediksi menjadi lebih cepat dan lebih mudah dikelola dibandingkan metode konvensional.

Sejarah prediksi cuaca antariksa di Indonesia bermula pada sekitar tahun 2013. Pada saat itu, informasi disebarkan lewat buletin cetak mingguan atau bulanan. Tahun 2015 menandai transformasi digital, ketika data yang sebelumnya dikirim via facsimile kini terintegrasi ke dalam ekosistem forecasting digital. Indonesia kemudian bergabung dengan International Space Environment Service (ISES). Sebagai bagian dari kolaborasi ini, BRIN menciptakan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) untuk menyediakan informasi dan prediksi cuaca antariksa terkini.

Untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan, BRIN mengembangkan Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI). Sistem ini berbasis kecerdasan buatan dan dirancang untuk menghasilkan prediksi otomatis yang lebih cepat dan akurat.

“Dibangun dengan cara kerja sesuai di riset-riset antariksa, dengan memanfaatkan model-model dengan skema agentic tadi, kami membuat SWx AI untuk mencari data otomatis Matahari dan melihat prediksi dengan berbagai cara,” ujar Dani. Ia menambahkan, “Mulai melihat gambar, melakukan summary, tujuannya menghindari halusinasi di desain dengan cara membatasi data temporal dan aturan-aturan yang sifatnya deterministic.”

SWx AI mengandalkan LLM Gemini 2.5 Flash dengan aturan data yang valid. BRIN menggunakan Gemini untuk mengurangi beban kerja forecaster dan meminimalkan halusinasi. Sistem ini hanya memproses data 24 jam terakhir, sehingga memfokuskan analisis pada informasi terkini yang paling relevan.

Dengan pendekatan ini, BRIN berharap dapat menyediakan prediksi cuaca antariksa yang lebih cepat, otomatis, dan akurat. Teknologi agentic AI menjadi alat penting dalam menyempurnakan layanan prediksi, meski masih memerlukan pengawasan manusia untuk memastikan kualitas dan keandalan data.

Secara keseluruhan, langkah BRIN menunjukkan komitmen dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan layanan prediksi cuaca antariksa. Kombinasi teknologi canggih dan keahlian manusia menjanjikan hasil yang lebih baik bagi para ilmuwan dan pengguna layanan.

BRINagentic AIprediksi cuaca antariksaSWx AIGemini 2.5 FlashISESSpace Weather Information and Forecast Services

Komentar

Memuat komentar...