Bubur Ayam Tasikmalaya: Mentimun, Kadipaten, Kerupuk
Gambar atau konten salah?
Di Kota Tasikmalaya, perbincangan tentang bubur ayam sering kali berputar di dua topik utama: cara mengaduknya dan isiannya. Meski sebagian orang memilih sekte bubur yang diaduk, sebagian lainnya lebih memperhatikan topping dan bumbu. Di balik perdebatan ini, ternyata ada tiga aliran bubur ayam yang cukup dikenal di wilayah tersebut.
Bubur Mentimun menjadi salah satu varian yang paling tersebar. Di sini, bubur ayam diberi topping mentimun segar, sehingga sering disebut “dibontengan”. Bubur ini biasanya agak cair, dengan kecap yang encer dan rasanya terasa ringan. Topping lengkapnya meliputi ayam suwir, daun bawang, kacang goreng, bawang goreng, mentimun, dan kerupuk. Jika masih kurang, penjual biasanya menambahkan sate usus, telur puyuh, telur ayam rebus, atau bahkan ati ampela. Harga seporsi biasanya tidak lebih dari Rp15.000, dan ada beberapa tempat yang menawarkan harga di bawah Rp10.000. Penjual Bubur Mentimun tersebar di hampir seluruh wilayah Tasikmalaya, khususnya di sekitar Jalan Tentara Pelajar, Jalan Cicurug, serta pusat keramaian setiap kecamatan.
Bubur Ayam Kadipaten dikenal karena asal-usulnya di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. Nama “Kadipaten” berasal dari nama daerah asal para pedagangnya. Bubur ini memiliki tekstur agak kental dan rasa kaldu ayam yang kuat, namun tidak terlalu manis. Taburan sederhana, hanya suwir daging ayam, irisan cakue, daun bawang, ati ampela, dan tongcai (sawi putih yang diasinkan). Tidak ada kecap manis, kerupuk, kacang, atau bawang goreng. Gerobak bubur ini biasanya dilapisi aluminium, memberi kesan praktis. Penjualnya tersebar di beberapa titik pusat kota, seperti Simpang Empat Gunung Sabeulah, Jalan Galunggung, Jalan Dokar (dr. Soekardjo), Jalan Kalektoran, dan Jalan Tarumanagara. Harga seporsi Bubur Kadipaten kini mencapai Rp35.000. Banyak pedagang yang mengusung konsep ini adalah mantan pegawai bubur Zaenal, perintis bubur ayam Kalektoran yang legendaris.
Bubur Kerupuk merupakan varian yang sering dijumpai di perkampungan dan dijajakan keliling. Nama “kerupuk” diambil dari dominasi topping kerupuk dalam bubur ini. Bubur kerupuk lebih kental, dengan sedikit daging ayam, kacang, daun bawang, dan bawang goreng. Rasanya tidak terlalu gurih, karena kecap yang digunakan lebih manis. Harga seporsi cukup ekonomis, hanya Rp5.000. Konsepnya mirip dengan bubur ayam di luar Tasikmalaya, namun tetap mempertahankan ciri khas lokal.
Keberagaman sekte bubur ayam di Tasikmalaya menunjukkan betapa banyaknya cara penyajian yang disesuaikan dengan selera dan tradisi masing‑masing. Dari topping mentimun yang segar, kaldu ayam kental, hingga kerupuk yang mengenyangkan, setiap varian menawarkan pengalaman rasa yang berbeda bagi para penikmatnya. Keberadaan tiga sekte ini juga mencerminkan dinamika pasar makanan tradisional di kota ini, di mana harga, lokasi, dan konsep tetap menjadi faktor utama dalam menarik pelanggan. Dengan demikian, bubur ayam di Tasikmalaya tidak hanya sekadar makanan, melainkan juga cerminan kebudayaan dan kreativitas lokal yang terus berkembang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
