Bupati Jember Fawait Hadiri Sarasehan Kebhinekaan Katolik
Gambar atau konten salah?
On Sabtu 28 Maret 2026, Bupati Jember Muhammad Fawait hadir di Aula SMA Katolik Santo Paulus untuk menyaksikan Sarasehan Kebhinekaan. Tema acara, Solidaritas, Harmoni, Bersama dalam Toleransi (Sahabat), menekankan pentingnya dialog lintas keberagaman. Ketua TP PKK Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita, juga hadir sebagai tamu kehormatan.
Dalam sambutannya, Fawait mengapresiasi penyelenggaraan forum dialog tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam merawat harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, Kabupaten Jember yang kerap dijuluki sebagai Miniatur of Indonesia memiliki keragaman suku, agama, dan budaya yang menjadi kekuatan utama, bukan sumber perpecahan.
"Perbedaan bukan kelemahan, justru menjadi energi besar untuk mempersatukan masyarakat," ujar Fawait dalam keterangannya, Sabtu 28 Maret 2026.
Ia juga menegaskan bahwa stabilitas sosial merupakan fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Tanpa harmoni dan persatuan, kata dia, kemajuan bangsa akan sulit tercapai.
Dalam kesempatan tersebut, Fawait mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi konflik yang kerap mengatasnamakan agama. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah.
"Nilai keindonesiaan harus selalu menjadi prioritas di atas perbedaan," tegasnya.
Fawait mengaku optimistis terhadap peran generasi muda Jember dalam menjaga toleransi. Ia melihat adanya perubahan positif, di mana kalangan pelajar mulai mampu melampaui sekat perbedaan suku, budaya, dan agama. "Saya bangga, anak-anak muda Jember hari ini sudah tidak lagi melihat perbedaan sebagai penghalang," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat juga berperan penting dalam memperkuat ketahanan sosial. Menurutnya, masyarakat yang sejahtera cenderung lebih rasional dalam menyikapi berbagai provokasi.
Selain itu, sektor pendidikan dinilai menjadi kunci dalam membangun kesadaran toleransi jangka panjang. Fawait menyebut, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin besar pula kemampuannya dalam memahami dan menghargai keberagaman. "Pendidikan adalah fondasi utama untuk menjaga toleransi di masa depan," pungkasnya.
Acara ini menegaskan pentingnya dialog lintas keberagaman dan peran generasi muda dalam menjaga toleransi di Jember.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
