Bupati Rembang Dukung Pendidikan Perempuan Kartini

Ratna D. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Bupati Rembang Dukung Pendidikan Perempuan Kartini

Gambar atau konten salah?

Raden Adipati Djojo Adiningrat adalah suami yang sering terlupakan dalam kisah perjuangan Kartini. Ia menjabat sebagai bupati Rembang dan berasal dari keluarga bangsawan. Walaupun berada di posisi tinggi, ia dikenal memiliki pandangan yang cukup maju bagi zamannya.

Perkawinan Kartini dengan Djojo Adiningrat terjadi pada 08 November 1903. Pada saat itu, sang bupati sudah menjadi duda dan memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Kartini tidak menerima lamaran begitu saja; ia menuntut agar ia tetap dapat menjalankan cita‑cita, termasuk membuka sekolah khusus perempuan. Persyaratan ini disetujui, sehingga pernikahan mereka tetap berlangsung.

Hubungan suami‑istri mereka berbeda dari kebiasaan pada masa itu. Banyak istri pejabat hanya berkomunikasi singkat dengan suami. Namun, Kartini sering berdiskusi panjang lebar dengan Djojo Adiningrat. Ia melihat suaminya sebagai sekutu, bukan sekadar pasangan. Kartini menulis bahwa suaminya sepaham dengannya dalam semangat mencintai rakyat dan sangat mendukung usahanya.

Suatu hal yang membuat Kartini merasa tenang adalah perbaikan yang dilakukan suaminya di wilayahnya. Ia telah menata daerah dengan baik, sehingga Kartini merasa yakin bahwa ia akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Kepercayaan ini menjadi dasar bagi Kartini untuk melanjutkan kegiatan sosialnya.

Peran Djojo Adiningrat dalam pendidikan perempuan sangat terasa. Ia memberi ruang penuh bagi Kartini untuk mewujudkan ide tentang pendidikan perempuan. Tak hanya mengizinkan, ia juga memfasilitasi pendirian sekolah perempuan di Rembang. Lokasinya strategis, berdekatan dengan kantor kabupaten. Dengan demikian, perempuan Jawa yang sebelumnya terbiasa dengan budaya pingit mulai mendapatkan kesempatan belajar.

Namun, di balik dukungan tersebut, Kartini menghadapi kenyataan bahwa suaminya memiliki istri lain. Poligami adalah praktik umum pada masa itu, dan Djojo Adiningrat tidak terkecuali. Kartini, yang dikenal kritis terhadap poligami, tetap menjalani peran sebagai istri dengan sikap dewasa. Ia menerima anak-anak suaminya dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang. Situasi ini tidak sederhana, namun menunjukkan bahwa Kartini tetap berpegang pada nilai kemanusiaan dan empati.

Kesimpulannya, suami Kartini bukan hanya sekadar pendukung, melainkan juga mitra sejati dalam perjuangan. Dengan dukungan penuh, ia membantu membuka pintu pendidikan bagi perempuan di Rembang. Meskipun menghadapi poligami, Kartini tetap menjaga integritas dan idealismenya, menegaskan bahwa kemajuan perempuan tidak harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

KartiniDjojo AdiningratPendidikan perempuanRembangPoligamiKeluarga bangsawanKemajuan perempuan

Komentar

Memuat komentar...