Bus ALS Terbakar, DNA Jadi Kunci Identifikasi Korban

Kartika D. · 3 min baca · 24 hari lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Bus ALS Terbakar, DNA Jadi Kunci Identifikasi Korban

Gambar atau konten salah?

Palembang – Sebuah kecelakaan maut terjadi pada Sabtu, 09 Mei 2026, ketika bus Antar Lintas Sumatera (ALS) melintasi Jalinsum di Muratara, Sumatera Selatan. Sejumlah penumpang tewas, dan jenazah mereka terbakar hingga hangus.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) di Mabes Polri mengungkapkan betapa sulitnya proses identifikasi korban. Kondisi tubuh yang terbakar membuat metode tradisional, seperti pencocokan properti, ciri fisik, dan gigi, tidak dapat dilakukan secara maksimal. Saat ini, tim DVI hanya berharap pada hasil pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas korban.

Menurut Kabid DVI Pusdokkes Mabes Polri, Kombes Wahyu Hidayati, sebagian besar barang pribadi korban ditemukan terpisah dari tubuh saat proses evakuasi di lokasi kejadian. “Benda‑benda seperti cincin, jam tangan, baju, jaket, dompet itu sebagian besar sudah terlepas dan tidak menempel lagi pada tubuh korban,” ujar Wahyu, Sabtu, 09 Mei 2026.

Wahyu menjelaskan bahwa tim DVI menemukan sejumlah barang milik korban di lokasi kejadian, seperti kepala ikat pinggang, dompet, hingga bagian jam tangan. Namun, seluruh barang tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari jenazah yang mana. “Kita menemukan properti di TKP, tetapi tidak bisa memastikan itu milik jenazah siapa karena tidak melekat pada tubuh korban,” katanya.

Dia menambahkan bahwa pihak keluarga telah memberikan data antemortem yang cukup lengkap untuk membantu proses identifikasi. Data tersebut mulai dari tahi lalat, tato, warna kulit, rambut, hingga ciri fisik lainnya. Namun, karena kondisi jenazah yang rusak berat akibat terbakar, ciri‑ciri tersebut tidak lagi dapat dikenali. “Data yang kami terima dari keluarga lengkap, tetapi pada jenazahnya tidak bisa kami temukan karena kondisi jenazah yang sulit untuk dikenali,” tuturnya.

Metode identifikasi melalui gigi, yang biasanya cukup efektif dalam kasus kebakaran, juga mengalami kendala. Panas api yang sangat tinggi membuat struktur gigi dan tulang korban menjadi rapuh bahkan hancur. “Awalnya kami berharap identifikasi bisa dilakukan dari gigi, karena pengalaman sebelumnya cukup membantu. Tetapi dalam kejadian ini panasnya api sangat besar sehingga tulang dan gigi menjadi rapuh dan membuatnya hancur,” ujarnya.

Karena itu, pemeriksaan DNA kini menjadi satu‑satunya harapan utama untuk mengungkap identitas korban, ungkapnya. Wahyu menyebut bahwa hingga saat ini tim DVI telah menerima 15 sampel DNA antemortem dari keluarga korban untuk dibandingkan dengan 17 jenazah yang ditemukan. “Dari 15 sampel AM yang sudah masuk, itu bisa dipakai untuk memeriksa 16 jenazah,” katanya.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa tim DVI telah mengidentifikasi 13 korban laki‑laki dewasa, tiga perempuan dewasa, dan satu anak. Namun, jenis kelamin korban anak tersebut belum dapat dipastikan karena kondisi tubuh yang tidak utuh. “Untuk jenazah anak‑anak kami belum bisa memastikan jenis kelaminnya,” ujarnya.

Tim DVI juga menduga satu jenazah anak yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan laporan keluarga yang kehilangan seorang anak bernama Bella. Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan sebelum hasil DNA keluar. “Kami tidak berani memastikan sebelum sesuai prosedur. Jangan sampai terjadi kesalahan identitas,” tegasnya.

Seluruh sampel DNA korban dan keluarga masih diperiksa di Laboratorium Forensik Mabes Polri. Hasil pemeriksaan diperkirakan keluar paling cepat lima hari dan paling lama dua minggu.

Kasus ini menyoroti tantangan identifikasi korban dalam situasi kebakaran, di mana metode konvensional sering kali gagal. Hanya dengan teknologi DNA yang canggih, upaya untuk mengungkap identitas korban dapat dilanjutkan, meski prosesnya memakan waktu dan memerlukan kehati‑hatian ekstra.

Kecelakaan busIdentifikasi korbanDNA forensikKebakaranDVI PolriBarang pribadi korbanKeluarga korban

Komentar

Memuat komentar...