Cabai: Dari Tanaman Hias Jadi Simbol Kebersamaan Tiongkok
Gambar atau konten salah?
Di banyak sudut kota di Tiongkok, hidangan pedas menonjol sebagai bagian tak terpisahkan dari kuliner lokal. Namun, cabai yang kini menjadi bahan utama rasa pedas sebenarnya bukan tanaman asli negeri ini. Bukan sampai abad ke-16, ketika pedagang Eropa membawa cabai ke wilayah Tiongkok.
Menurut peneliti Cao Yu dari Sun Yat-sen University, cabai baru mulai dikonsumsi secara luas sekitar 300 tahun terakhir. Sebelum itu, tanaman ini hanya dihias di pekarangan rumah, karena bentuknya menarik dan tidak dianggap sebagai bahan makanan.
Setelah masuk, cabai juga dipercaya memiliki hubungan dengan gairah seksual. Dalam karya klasik The Peony Pavilion karya Tang Xianzu, cabai melambangkan pernikahan dan awal kehidupan seksual. Kepercayaan ini menyebar luas di masyarakat.
Wilayah Guizhou menjadi tempat pertama di Tiongkok yang mengonsumsi cabai. Di sana, warga menggunakan cabai sebagai pengganti garam. Pada masa itu, garam tergolong mahal dan sulit diakses, khususnya di daerah tertentu. Menurut Cao Yu, kondisi ini membuat makanan pedas identik dengan masyarakat kelas bawah, bukan bangsawan.
Di masa Dinasti Qing, makanan pedas masih dianggap sederhana dan kurang bergengsi. Bahkan tokoh terkenal Zeng Guofan dikatakan mengonsumsi cabai secara diam-diam. Di antara delapan kuliner besar China, hanya Sichuan dan Hunan yang dikenal dengan rasa pedas yang khas.
Selama 30 tahun terakhir, popularitas makanan pedas semakin meluas. Restoran pedas kini menjamur di berbagai kota besar, menandai perubahan persepsi terhadap hidangan pedas yang dulu dianggap sederhana.
Menurut Cao Yu, popularitas cabai tidak hanya soal rasa. Ia mengatakan, “Makan pedas bersama berarti saya mau merasakan sakit bersama Anda.” Ia juga menambahkan, “Di situ ada empati, sehingga orang bisa merasa lebih dekat,” menjelaskan fungsi sosial dari makanan pedas di Tiongkok.
Berbagai fakta ini terungkap dalam artikel South China Morning Post (27 April 2024). Cabai, yang dulu hanya tanaman hias, kini telah menjadi simbol kebersamaan dan empati. Perjalanan unik ini menyoroti bagaimana sebuah bahan dapat berubah makna dan peran dalam budaya seiring waktu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tegaskan Ukuran Potongan Ayam di Program MBG
Kari Minang Depok, Gyudon Jakarta, Diet Rendah Sodium Jadi Tren
Telur Ceplok Balado Jadi Pilihan Pagi di Rumah
Tahu: Protein Nabati, Rasa Martabak, Bola, Gejrot Tradisional
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
