Campak Sulsel Bertambah: 169 Kasus, 3 Positif, 59 Suspek
Gambar atau konten salah?
Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Dinkes Sulsel) mencatat 169 kasus campak hingga 8 April 2026, tersebar di beberapa kabupaten dan kota. Empat daerah, yaitu Kota Makassar, Sinjai, Luwu, dan Wajo, dilaporkan berada dalam KLB (Kejadian Luar Biasa).
"Jumlah kasus campak di Sulsel sampai tanggal 8 April 169 yang tersebar di beberapa kabupaten Kota. Adapun kabupaten/kota yang melaporkan KLB yaitu Kota Makassar, Sinjai, Luwu dan Wajo," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Evi Mustikawati Arifin kepada detikSulsel, Rabu (8/4/2026).
Ia belum merinci jumlah kasus tiap kabupaten/kota, namun menegaskan bahwa Sinjai memiliki suspek terbanyak, yakni 59 orang. Suspek tersebut masih bersifat kecurigaan berdasarkan diagnosis, belum dinyatakan positif karena belum ada laporan hasil laboratorium. Namun, sudah ada 3 kasus positif, meski jumlah suspek tetap tinggi," tambahnya.
"Karena kasusnya itu sampai dengan 8 April, Sinjai melaporkan ada suspek 59 orang. Suspek itu baru dicurigai yah berdasarkan diagnosis, belum dinyatakan positif, mengingat belum adanya laporan bahwa positif berdasarkan hasil laboratorium. Tetapi sudah positif kasus yang positif ada 3, tapi suspeknya cukup tinggi," katanya.
Ia menekankan pentingnya waspada terhadap penyebaran penyakit. "Jadi kita menghindari upaya-upaya supaya penularan campak ini tidak berdampak luas. Sehingga, itu tidak dibatasi sebuah perjalanan, tetapi ditetapkan sebuah protokol kesehatan dan proses PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) yang benar," ujarnya.
Dinkes Sulsel telah melakukan pembinaan melalui virtual meeting dengan semua kabupaten yang disebutkan. "Kami sudah melakukan pembinaan melalui virtual, melalui zoom meeting terhadap semua kabupaten yang saya sebutkan tadi untuk melakukan langkah-langkah strategis dan percepatan penanganan," kata Kepala Dinas.
Langkah strategis yang diambil meliputi dua kegiatan utama: Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi campak-rubella). "Ada dua langkah yang dilakukan, ada yang disebut dengan pelaksanaan kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign (imunisasi campak-rubella), ada yang disebut dengan kegiatan Catch Up Campaign (imunisasi campak-rubella)," jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar segera mencari layanan kesehatan bila menemukan gejala seperti demam dan ruam. "Begitu ada gejala, bisa langsung ke layanan kesehatan. Yang kedua adalah bagaimana bila sudah ada gejala yang muncul agar melakukan upaya-upaya dengan isolasi," tambahnya.
Menegaskan bahwa campak tidak berbahaya bila ditangani dengan benar, Evi menegaskan, "campak sejatinya tidak berbahaya jika ditangani dengan benar. Jika tidak segera ditangani berpotensi menjadi komplikasi penyakit."
"Yang berbahaya adalah kalau dilakukan pembiaran dan menyebabkan komplikasi. Komplikasinya ini yang berdampak berat," pungkasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Dinkes Sulsel berupaya menekan penyebaran campak dan memastikan masyarakat teredukasi tentang pentingnya imunisasi serta protokol kesehatan yang tepat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luwu Utara Cetak 2,960 Ha Lahan Sawah Baru, Target 20,000 Ha
Daftar Isi Doa Rosario 6 Mei 2026: Renungan dan Pengharapan
Umat Katolik Renungkan Hati Tersuci Maria pada 13 Juni 2026
Sabtu 13 Juni 2026: Jadwal Piala Dunia & Cara Menonton
13 Juni 2026: 27 Dzulhijjah 1447 H, Dua Bulan Hijriah di Juni
Jadwal Puasa Muharram 2026: Tanggal dan Niat Penting
Berita Terbaru
Muharram 2025: Sepuluh Amalan Penting Memulai Tahun Baru Islam
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
Luwu Utara Cetak 2,960 Ha Lahan Sawah Baru, Target 20,000 Ha
PP PBVSI Pilih Toiran Gonzales Reidel, Timnas Siap AVC 2026
KKP Rencanakan Insentif Daerah untuk Hindari Sampah ke Laut
270 Personel Dishub & Polrestabes Lindungi CFD Palembang
Rupiah Jatuh ke Rp 18.000, Mata Uang Terlemah Asia 12 Juni
