China Tambah 1.200 ha Pulau Baru Strategis di Laut Selatan
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Laut Selatan, China telah menciptakan perubahan yang tidak biasa pada wajah laut. Selama lebih dari satu dekade, otoritas setempat menumpuk pasir di dasar laut, membentuk pulau buatan yang kini menjadi wilayah strategis.
Proyek ini berlangsung selama 12 tahun. Selama periode tersebut, China memindahkan sedimen dari dasar laut ke permukaan, mengubah karang dangkal menjadi daratan luas. Hasilnya, area yang dulu hampir tenggelam saat air pasang kini menjadi pulau permanen.
Perubahan ini terlihat jelas pada citra satelit. Pulau-pulau baru kini dilengkapi fasilitas seperti landasan pacu, jalan, radar, dan bangunan permanen. Lingkaran karang yang dulu sederhana kini berubah menjadi struktur beton dengan fungsi strategis.
Antara 2013 hingga 2016, China berhasil menciptakan lebih dari 1.200 hektare daratan baru di Kepulauan Spratly. Luas ini setara dengan sekitar 1.600 lapangan sepak bola.
Proses pembangunannya melibatkan kapal keruk raksasa yang menyedot pasir dari dasar laut, kemudian memompanya ke atas terumbu karang. Setelah itu, pasir diratakan dan dipadatkan menggunakan alat berat, lalu diperkuat dengan struktur batu dan beton agar tahan terhadap gelombang laut.
Setelah fondasi terbentuk, pembangunan dilanjutkan dengan fasilitas pendukung seperti pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, dan infrastruktur lainnya. Secara resmi, China menyebut pembangunan ini bertujuan untuk mendukung kebutuhan sipil seperti navigasi dan keselamatan pelayaran.
Namun, berbagai laporan menunjukkan keberadaan fasilitas militer yang berdampingan dengan infrastruktur sipil. Seorang analis keamanan dari Manila menyoroti dampak dari proyek ini.
“Kami membangun pulau ini agar merasa lebih aman, tetapi setiap pulau juga terasa seperti pemicu baru,” ujar analis keamanan dari Manila, Filipina, dikutip dari Damascus Bite.
Proyek reklamasi besar-besaran juga menimbulkan kekhawatiran lingkungan. Kerusakan terumbu karang, habitat penting bagi berbagai spesies laut, menjadi dampak negatif. Aktivitas ini juga memengaruhi nelayan lokal yang kini harus menghindari wilayah yang sebelumnya menjadi area tangkap mereka.
Pulau-pulau buatan tersebut kini berada di jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan dunia. Hal ini membuat proyek reklamasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga berkaitan erat dengan kekuatan ekonomi dan politik global.
Secara keseluruhan, proyek ini menandai perubahan signifikan di Laut Selatan. Pembangunan pulau buatan, meski dilindungi dengan infrastruktur modern, tetap menimbulkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang bagi keamanan, lingkungan, dan komunitas lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
