Christina Hammock Koch Kembali: Tantangan Balik Gravitasi

Yanto K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Christina Hammock Koch Kembali: Tantangan Balik Gravitasi

Gambar atau konten salah?

Christina Hammock Koch, salah satu astronot Artemis II, baru saja kembali ke Bumi setelah 10 hari di luar angkasa. Setelah mendarat, ia harus memulai proses rehabilitasi untuk belajar berjalan kembali di bawah gravitasi.

Di sebuah video yang ia unggah ke media sosial, Christina terlihat kesulitan menahan posisi tegak dan berjalan lurus. Bahkan seminggu setelah mendarat di air, otaknya masih mencoba menentukan arah. Video tersebut menampilkan gerakan-gerakan yang tampak tidak stabil, menandakan proses adaptasi tubuh yang masih berlangsung.

Ketika orang hidup dalam gravitasi mikro, sistem dalam tubuh kita yang telah berevolusi untuk memberi tahu otak kita bagaimana kita bergerak, organ vestibular, tidak bekerja dengan benar,” tulis Christina, dikutip Senin (20 April 2026). Kalimat ini menyoroti bagaimana sistem keseimbangan tubuh terpengaruh di lingkungan mikrogravitasi.

Ia melanjutkan, “Otak kita belajar untuk mengabaikan sinyal-sinyal itu dan jadi ketika kita pertama kali kembali ke gravitasi, kita sangat bergantung pada mata kita untuk mengarahkan diri kita secara visual,” sambungnya. Kalimat tersebut menjelaskan peran penting penglihatan dalam menyesuaikan diri setelah kembali ke Bumi.

Rehabilitasi yang diikuti oleh Christina dan rekan-rekannya bertujuan mengobati vertigo, gegar otak, serta kondisi neuro‑vestibular lainnya. Meskipun prosesnya menantang, setelah tujuh hari pasca‑splashdown, Christina bersama tiga rekan lainnya sudah mulai dapat beradaptasi dengan lebih baik.

Berikut rincian perubahan yang dialami tubuh manusia selama berada di orbit hingga kembali ke Bumi:

  1. Gangguan Keseimbangan dan Mabuk Ruang Angkasa
    Tubuh terbiasa hidup dengan gravitasi. Saat memasuki mikrogravitasi, otak harus menyesuaikan sinyal dari mata, telinga bagian dalam, otot, dan sendi. Pada awal misi, astronot dapat mengalami disorientasi, kehilangan arah, hingga mabuk ruang angkasa. Bahkan tugas sederhana terasa sulit. Setelah kembali, tubuh juga harus beradaptasi lagi, sehingga banyak astronot sulit berdiri, berjalan, memutar tubuh, atau menjaga pandangan tetap stabil.
  2. Mata dan Penglihatan Berubah
    Menurut Baylor College of Medicine, mata juga mengalami perubahan, terutama pada misi jangka panjang. Dampaknya meliputi perataan bola mata, pembengkakan saraf optik, dan gangguan penglihatan. Salah satu kondisi yang paling dikenal adalah Spaceflight Associated Neuro‑ocular Syndrome (SANS), yaitu pembengkakan di bagian belakang mata.
  3. Sistem Pencernaan Terganggu
    Tanpa gravitasi, makanan tidak bergerak di saluran cerna seperti di Bumi. Motilitas usus bisa menurun, dan sistem pencernaan ikut terpengaruh. Proses buang air juga menjadi tantangan tersendiri di lingkungan tanpa gravitasi.
  4. Kulit dan Pendengaran Terganggu
    Paparan kebisingan saat peluncuran, penerbangan, dan pendaratan dapat memicu gangguan pendengaran. Tidak adanya tekanan di telapak kaki membuat kapalan menghilang dan kulit kaki menjadi lebih lunak.
  5. Fungsi Otak dan Kinerja Menurun
    Lingkungan sempit, tekanan kerja tinggi, kurang tidur, hilangnya siklus siang‑malam normal, serta stres dapat mempengaruhi kemampuan berpikir astronot. Hal ini bisa menurunkan fungsi kognitif dan membahayakan keberhasilan misi. Peneliti terus mencari cara menjaga kesehatan mental dan performa kru selama penerbangan.
  6. Otot Menyusut dan Melemah
    Di ruang angkasa, bergerak tidak membutuhkan tenaga sebesar di Bumi. Akibatnya, massa otot, kekuatan, dan daya tahan astronot bisa menurun. Otot kaki dan punggung menjadi paling terdampak. Jika kondisi otot menurun, astronot berisiko cedera saat kembali ke Bumi atau sulit berjalan saat pertama kali mendarat.
  7. Tulang Menjadi Rapuh
    Tanpa beban gravitasi, tulang di bagian bawah tubuh seperti kaki, pinggul, dan tulang belakang bekerja jauh lebih sedikit. Kondisi ini menyebabkan kepadatan tulang menurun. Mineral dari tulang dapat berpindah ke sistem tubuh lain, berisiko meningkatkan kadar kalsium dalam urine dan memicu batu ginjal.
  8. Jantung Bisa Mengecil
    Di ruang angkasa, jantung tidak bekerja sekeras di Bumi karena efek gravitasi berkurang. Seiring waktu, ukuran dan kebugaran jantung bisa menurun. Astronot juga berisiko mengalami penurunan volume darah, kapasitas aerobik, toleransi ortostatik, hingga gangguan irama jantung. Saat kembali ke Bumi, jantung yang lebih kecil dan lemah dapat bekerja lebih berat.
  9. Paparan Radiasi Naik Tajam
    Di Bumi, manusia terlindungi oleh atmosfer dari radiasi luar angkasa. Tetapi, di luar orbit rendah Bumi, paparan radiasi meningkat drastis. Astronot bisa mengalami risiko penyakit radiasi, gangguan sistem saraf pusat, penyakit degeneratif, hingga peningkatan risiko kanker seumur hidup. Paparan radiasi di luar angkasa diperkirakan sekitar 100 kali lebih tinggi dibanding di Bumi. (sao/kna)

Perubahan-perubahan ini menunjukkan betapa kompleksnya adaptasi tubuh manusia terhadap lingkungan luar angkasa. Meskipun proses rehabilitasi menuntut ketekunan, pengalaman Christina Hammock Koch memberi gambaran jelas tentang tantangan fisik dan neurologis yang dihadapi astronot setelah misi panjang. Penelitian terus berlanjut untuk meminimalkan dampak tersebut dan memastikan keamanan serta kinerja kru dalam misi ruang angkasa berikutnya.

Astronot Artemis IIgravitasi mikrosistem vestibularSANS (Spaceflight Associated Neuro‑ocular Syndrome)adaptasi tubuh manusiarehabilitasi pasca misipaparan radiasi luar angkasa

Komentar

Memuat komentar...