Cikini, Jakarta: 5 Warisan Kuliner Berusia Puluhan Tahun

Kartika D. · 3 min baca · 17 hari lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Cikini, Jakarta: 5 Warisan Kuliner Berusia Puluhan Tahun

Gambar atau konten salah?

Jakarta, pada akhir pekan panjang, menjadi ajang bagi para pecinta kuliner untuk menelusuri lorong-lorong Cikini. Tempat ini tak hanya menampung kafe modern dan warung kekinian, tapi juga menyimpan warisan kuliner yang telah bertahan lebih dari setengah abad. Setiap sudutnya memancarkan aroma tradisi, menunggu siapa saja yang ingin merasakan cita rasa asli yang tak lekang oleh waktu.

Di tengah hiruk‑huruk Jakarta Pusat, Cikini masih menjadi oasis bagi para pengunjung yang menginginkan pengalaman makan yang berbeda. Di antara deretan restoran baru, masih banyak rumah makan lawas yang menjaga keaslian rasa. Mereka tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga cerita yang telah melewati generasi. Dari restoran bergaya klasik, rumah makan khas Betawi, hingga restoran Jepang tertua di Jakarta, semuanya memiliki sejarah panjang dan pelanggan setia.

Beberapa tempat di Cikini bahkan pernah menjadi tempat nongkrong bagi tokoh penting, artis, dan pejabat. Keberadaan mereka menambah nilai sejarah, sekaligus menegaskan bahwa tempat-tempat ini tidak sekadar tempat makan, melainkan juga ruang sosial yang berpengaruh. Suasana klasik yang dipertahankan menambah daya tarik, menjadikan setiap kunjungan seperti perjalanan waktu ke masa lalu Jakarta.

Berikut ini lima rekomendasi tempat makan berusia puluhan tahun di Cikini, yang bisa menjadi tujuan kuliner seharian bagi para penikmat makanan.

Bubur Ayam Cikini H.R. Sulaiman – Sejak tahun 1970‑an, rumah makan ini telah menjadi ikon di Jalan Cisadane, dekat Stasiun Cikini. Bubur ayamnya terkenal dengan bumbu rempah yang kaya, berwarna kecokelatan dari campuran jahe dan kapulaga. Gaya bubur di sini merupakan perpaduan antara bubur China dan Cianjur, menambah nuansa unik. Menu andalan, Bubur Telur Spesial, hanya Rp 29 ribu, dilengkapi dengan telur ayam kampung mentah, tongcai, emping, dan ayam suwir. Martabak telur dengan kulit kertas ala jadul juga wajib dicicipi, terutama saat masih hangat bersama acar. Setelah puas makan, pengunjung dapat bersantai sambil ngopi atau menikmati roti canai manis yang tersedia.

Restoran Trio – Restoran ini berdiri sejak 1947 dan masih mempertahankan konsep restoran Chinese food bergaya Kanton. Letaknya di pinggir jalan utama memudahkan akses, sehingga selalu ramai di jam makan siang. Bangunannya sederhana, dominasi warna hijau dan putih. Menu andalannya meliputi lumpia udang, mie goreng oriental, fuyung hai, ayam lada hitam, dan sup asparagus. Semua resep diwariskan secara turun‑temurun, menjaga konsistensi rasa. Kabarnya, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pernah menjadi pelanggan tetap. Meskipun harga mulai Rp 80.000, porsi besar dan kualitas tinggi membuat restoran ini tetap populer.

Soto Betawi H. Ma'ruf – Terletak tidak jauh dari Restoran Trio, soto ini sudah beroperasi lebih dari delapan dekade. Sejak tahun 1940‑an, rumah makan ini menjadi pelopor soto Betawi legendaris di Jakarta. Kuahnya menggabungkan santan, susu, dan rempah‑rempah, menghasilkan rasa gurih khas. Daging dan jeroan yang disajikan empuk, tanpa aroma amis. Berbeda dari soto Betawi umum, di sini tidak ada tomat atau kentang. Isiannya murni daging, paru, babat, kikil, atau usus sesuai pilihan pelanggan. Seporsi sotonya sekitar Rp 45.000, cocok bagi yang ingin menambah variasi kuliner di Cikini.

Kikugawa – Restoran Jepang tertua di Indonesia, dibuka pada 1969. Bagi pencinta kuliner Jepang, Kikugawa menjadi destinasi wajib. Suasana klasik tetap terjaga, pelayanan turun‑temurun. Menu sashimi dan sushi segar menjadi favorit, sering direkomendasikan untuk makan malam. Selain itu, nasi kari Jepang dengan rasa gurih rumahan juga tersedia, resepnya dipertahankan selama puluhan tahun. Harga mulai Rp 40.000 per porsi, dan restoran ini tetap ramai oleh pelanggan setia dari berbagai generasi.

Gado‑Gado Bon Bin – Didirikan pada 1960, tempat makan sederhana ini terkenal dengan bumbu kacangnya yang khas dan porsi melimpah. Gado‑gado siram Bon Bin menjadi favorit di kalangan publik, termasuk tokoh publik dan selebriti. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menjadi pelanggan tetap. Seporsi biasanya dibanderol sekitar Rp 40.000, berisi sayuran segar, lontong, tahu, telur, dan siraman saus kacang manis. Tidak mengherankan jika tempat ini tetap ramai hingga kini.

Keberadaan kelima tempat makan ini menunjukkan bahwa Cikini masih menyimpan warisan kuliner yang kaya. Setiap restoran memiliki cerita, menu khas, dan harga yang terjangkau, sekaligus menampilkan sejarah kuliner Jakarta yang tak lekang oleh waktu. Menjelajahi Cikini pada akhir pekan panjang memberikan kesempatan untuk merasakan cita rasa autentik sambil menikmati suasana klasik yang masih terjaga. Dengan berbagai pilihan mulai dari bubur ayam, soto Betawi, hingga gado‑gado, Cikini tetap menjadi destinasi kuliner yang layak dikunjungi bagi siapa saja yang menghargai sejarah dan rasa.

CikiniKuliner WarisanRestoran KlasikBubur AyamSoto BetawiGado‑GadoJepang

Komentar

Memuat komentar...