Ciri-ciri Haji Mabrur: Sikap Baik dan Kebaikan Sosial
Gambar atau konten salah?
Palembang – Setiap umat muslim yang berangkat ke Tanah Suci tentu mendambakan predikat haji mabrur. Bukan tanpa alasan, dalam syariat Islam, tidak ada balasan yang lebih pantas bagi mereka yang meraih kemabruran selain ganjaran surga.
Memahami haji mabrur menjadi penting bagi setiap umat muslim, karena haji mabrur bukan hanya tentang menyelesaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Namun, juga tentang kualitas ibadah serta perubahan sikap setelahnya.
Berikut informasi lengkap mengenai pengertian haji mabrur beserta ciri-cirinya menurut agama Islam. Yuk simak!
Dilansir laman Nu Online dan Buku berjudul M Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui karya M, Quraish Shihab, haji mabrur secara bahasa berasal dari kata barra, yang memiliki makna seperti 'diterima', 'benar', 'penuh kebaikan', dan 'luas dalam berbuat baik'.
Dalam penjelasan M. Quraish Shihab, istilah ini menunjukkan bahwa haji bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga harus membawa kebaikan yang luas bagi diri sendiri dan orang lain.
Para ulama memiliki penafsiran yang berbeda tentang arti haji mabrur. Dalam kitab Nayl al-Awthar, Asy-Syawkani mengutip pendapat Ibnu Khalawayh yang menyatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT. Sementara itu, Imam an-Nawawi berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa selama pelaksanaannya.
Ada juga riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim an-Naisaburi yang menyebutkan bahwa Rasulullah menjelaskan haji mabrur sebagai perilaku memberi makan dan menyebarkan kedamaian, meskipun sebagian ulama menilai hadis ini lemah.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah karena dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, dan dijalankan tanpa disertai perbuatan dosa.
Ciri-ciri Haji Mabrur
Berikut terdapat beberapa ciri-ciri haji mabrur menurut Islam:
- Berkata dengan Baik dan Sopan (thayyibul kalam) – Orang yang hajinya mabrur menjaga lisannya, tidak berkata kasar, tidak menghina, dan terbiasa berbicara dengan lembut serta penuh kebaikan.
- Menyebarkan Kedamaian (ifsya'us salam) – Suka memberi salam, menciptakan suasana damai, tidak mudah marah, dan menghindari pertengkaran dengan orang lain.
- Peduli dan suka berbagi (ith'amut tha'am) – Memiliki kepedulian sosial, seperti memberi makan, membantu sesama, dan ringan tangan dalam bersedekah.
- Menjauhi Perbuatan Maksiat – Selama dan setelah haji, berusaha meninggalkan dosa, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pikiran.
- Tidak Berkata Jorok atau Melakukan Hal yang Dilarang (rafats) – Menjaga diri dari ucapan atau perilaku yang tidak pantas, terutama yang berbau syahwat atau kotor.
- Tidak Melakukan Dosa (fusuq) – Menghindari segala bentuk pelanggaran dan kemaksiatan selama ibadah haji.
- Tidak Bertengkar (jidal) – Mampu mengendalikan emosi dan tetap sabar meskipun berada dalam situasi yang padat atau melelahkan.
- Ikhlas dan Tidak Riya – Melaksanakan haji hanya karena Allah, bukan untuk pamer atau mencari pujian dari orang lain.
- Menjadi Pribadi yang Lebih Baik – Setelah haji, sikap dan ibadahnya semakin baik serta tidak kembali pada kebiasaan buruk.
- Istiqomah Dalam Kebaikan – Kebaikan yang dilakukan tidak hanya saat haji, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari‑hari.
Haji mabrur dianggap sebagai balasan yang paling pantas bagi orang yang melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan tanpa dosa. Sikap yang baik, seperti berbicara dengan sopan, memberi salam, dan menghindari konflik, menjadi bagian penting dari haji mabrur. Selain itu, tindakan sosial, seperti memberi makan dan bersedekah, menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Selama haji, umat muslim diharapkan menjaga diri dari dosa dan perilaku tidak senonoh, serta menghindari ucapan yang tidak pantas. Setelah kembali, haji mabrur mengharuskan pelaku untuk terus menegakkan kebaikan dan istiqomah dalam kehidupan sehari‑hari.
Dengan memahami ciri-ciri haji mabrur, umat muslim dapat menyiapkan diri secara spiritual dan moral sebelum menempuh perjalanan ke Tanah Suci. Hal ini membantu memastikan bahwa ibadah yang dilakukan tidak hanya memenuhi tuntunan ritual, tetapi juga menghasilkan perubahan positif dalam karakter dan perilaku.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Berita Terbaru
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
Garuda Muda vs Timor Leste: Piala AFF 2026 di Sumut
Safari Apple: Kecepatan, Baterai, dan Privasi Unggul
