Cliff Jumping Jadi Gaya Hidup Baru Remaja di Bali Pecinta

Iwan D. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Cliff Jumping Jadi Gaya Hidup Baru Remaja di Bali Pecinta

Gambar atau konten salah?

Cliff jumping atau terjun dari tebing ke laut menjadi gaya hidup baru bagi para remaja di Bali. Di Kecamatan Kuta Selatan, Badung, tempat ini semakin populer karena bukit-bukit kecil yang menuruni laut.

Di Honeymoon Beach, Kelurahan Jimbaran, tebingnya langsung menghadap laut. Sejak siang hingga sore, anak muda berkumpul di pinggiran tebing, menunggu giliran melompat. Kebanyakan pria, namun ada juga beberapa wanita yang berani ikut.

Setiap orang melompat satu per satu, dengan jeda lama di antara lompatan. Seolah mereka sedang menimbang dan menyiapkan mental. Setelah melompat, mereka berenang sebentar, menikmati ombak, lalu naik kembali ke tebing. Beberapa bahkan melompat lagi untuk merasakan sensasi yang sama.

Salah satu yang hadir adalah Ian Satria. Pemuda asal Jawa Barat ini mencoba olahraga ini pertama kali setelah diajak temannya. Ia menilai cliff jumping sebagai tantangan yang menyenangkan.

“Kayak melayang nyawanya gitu. Kayak nyawanya belum turun, tetapi tiba-tiba udah sampai bawah,” ujar Satria pada Minggu (19/4/2026).

Ia mempersiapkan mental sebelum melompat karena ketinggian tebing cukup ekstrem. Awalnya ragu, ia akhirnya memaksakan diri dan merasakan keseruan. Ia juga merasa lebih percaya diri setelah berenang.

“Ragu-ragu karena takut. Kayak takut-takut enggak, tetapi ya sudah lompatin kayak dipaksain. Eh ternyata seru banget sih. Ternyata seru pas udah sampai bawah itu kayak, 'Wow, enak sih, seru',” cerita Satria. Ia melompat tiga kali.

Ridho, yang berusia 22 tahun, juga baru pertama kali mencoba cliff jumping. Ia tertarik karena adrenalin dan keinginan mengalahkan diri sendiri.

“Iya, yang bikin capek naiknya. Kalau ada tangga mungkin enak nih, cepet. Tetapi yang bikin capek naiknya, soalnya kan karang juga tuh,” kata Ridho.

Selama persiapan, Ridho berbagi tips agar tidak terluka saat mendarat. “Harus bener-bener PD dulu baru bisa lompat. Kalau nggak PD itu kadang kita jatuhnya itu sakit, jadi enggak pas gitu lho. Kalau kita emang udah PD, lompatnya enak di bawahnya,” jelas Ridho.

Ia juga menyarankan memilih titik lompatan berdasarkan warna air. Area yang lebih gelap biasanya lebih dalam dan aman, karena tidak ada karang yang dapat melukai.

Ridho berharap ada peningkatan keamanan, seperti penyediaan pelampung dan sosialisasi kondisi karang. Ia pernah terkena karang saat mendarat, meski tidak terluka. “Ada yang memfasilitasi ya, mungkin kayak pelampung karena kan di sini kan ya semua umur kayak ada anak kecil yang masih SMP. Nah takutnya mereka yang nggak bisa berenang kalau enggak ada yang berpengalaman kan akhirnya ya itu tadi, takutnya kejadian yang tidak mengenakkan,” harap Ridho.

Dengan semakin banyaknya penggemar, keamanan menjadi perhatian utama. Penyediaan pelampung, penandaan area aman, dan pelatihan dasar berenang dapat membantu mengurangi risiko. Praktik ini, meski seru, tetap memerlukan persiapan dan kehati-hatian agar tetap aman bagi semua.

Cliff jumpingKuta SelatanHoneymoon BeachAdrenalinKeamanan

Komentar

Memuat komentar...