CNG 3kg Uji Coba di Jakarta, Target Pengganti LPG Dan

Endah K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
CNG 3kg Uji Coba di Jakarta, Target Pengganti LPG Dan

Gambar atau konten salah?

"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, 06 Mei 2026.

Uji coba ini menargetkan tabung CNG berukuran rumah tangga, sebelum produk tersebut dipasarkan secara luas kepada masyarakat. Pemerintah menilai bahwa CNG dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor LPG.

Compressed Natural Gas, atau CNG, adalah gas yang sebagian besar terdiri dari metana (CH₄) dengan kadar lebih dari 95 %. Gas ini dipadatkan pada tekanan tinggi, biasanya di atas 200 bar, sehingga dapat disimpan dalam tabung khusus. Karena berbasis gas alam, CNG dikenal memiliki emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lainnya.

Sementara itu, LPG atau Liquefied Petroleum Gas adalah gas hidrokarbon yang dicairkan melalui tekanan untuk memudahkan penyimpanan. Komponen utamanya berupa propana, butana, atau campuran keduanya. LPG biasanya disimpan dalam bentuk cair pada tekanan moderat.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012, CNG didefinisikan sebagai bahan bakar gas yang berasal dari gas bumi dengan unsur utama metana yang dimampatkan dan disimpan dalam bejana bertekanan khusus agar lebih mudah diangkut. Sedangkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2019 menjelaskan LPG sebagai gas hidrokarbon yang dicairkan melalui tekanan.

Data PT PGN menunjukkan bahwa gas alam mengandung berbagai unsur hidrokarbon seperti metana, etana, propana, dan butana. Dari komponen tersebut, CNG memiliki kandungan metana paling dominan, yakni mencapai 95 %. Meski berasal dari sumber yang sama, ketiga jenis energi ini—CNG, LPG, dan LNG—memiliki karakteristik dan metode penyimpanan yang berbeda.

Perbedaan utama terletak pada bentuk fisik dan tekanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan sangat tinggi; LPG dalam bentuk cair pada tekanan moderat; dan LNG disimpan dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah (kriogenik). Dari sisi ekonomi, penggunaan CNG diklaim dapat menghemat biaya energi sekitar 20 % hingga 30 % dibandingkan LPG.

Pemerintah menilai pengembangan CNG sebagai pengganti LPG 3 kg menjadi langkah strategis untuk efisiensi. Sejak lama, CNG sudah diterapkan pada tabung berukuran 12 kg dan 20 kg. Bahlil menegaskan bahwa langkah ini didorong oleh tingginya volume impor LPG yang menjadi beban besar bagi APBN.

"Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan, devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujarnya.

Besarnya angka impor tersebut membuat pemerintah harus mencari alternatif energi lain yang lebih efisien. Salah satu opsi yang kini didorong adalah konversi bahan baku gas dalam negeri menjadi energi substitusi LPG.

"Nah, tidak ada cara lain dalam rangka efisiensi adalah kita mencari akal agar bahan baku yang ada di negara kita itu bisa dikonversi untuk mengganti LPG. Kira‑kira gitu," sambungnya.

Meski tengah mengembangkan penggunaan CNG untuk masyarakat, pemerintah memastikan skema subsidi tetap akan diberlakukan. Kebijakan ini diambil agar harga jual CNG tetap terjangkau, terutama bagi masyarakat kecil yang selama ini bergantung pada LPG subsidi.

"Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya," ujarnya.

Per Mei 2026, harga isi ulang gas melon 3 kg berada di kisaran Rp 19.000 hingga Rp 25.000 per tabung di tingkat pangkalan atau eceran. Lewat skema subsidi, harga CNG yang nantinya diterima masyarakat diharapkan setidaknya setara dengan harga LPG subsidi saat ini.

"Doakan seperti itu ya. Minimal sama (harganya dengan LPG). Minimal sama," ujarnya.

Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada impor LPG, menekan beban APBN, dan menyediakan alternatif energi rumah tangga yang lebih bersih serta ekonomis. CNG, meski masih dalam tahap uji coba, menunjukkan potensi signifikan bagi transisi energi nasional.

CNGLPGgas alamsubsidiimpor LPGefisiensi energi

Komentar

Memuat komentar...