Dadan Hindayana Klarifikasi 19.000 Sapi, Menu MBG Gaps

Mira T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Dadan Hindayana Klarifikasi 19.000 Sapi, Menu MBG Gaps

Gambar atau konten salah?

Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), sempat memicu perdebatan publik ketika ia menyebutkan bahwa 19 ribu ekor sapi dipotong setiap hari untuk menu makan bergizi gratis. Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan, mengapa daging sapi jarang muncul dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan di berbagai wilayah.

Reaksi cepat datang dari Prof. Panjono, Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Ia menilai angka tersebut perlu dikaji ulang dan menuntut transparansi distribusi. “Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dalam penjelasan terbaru, Dadan mengklarifikasi bahwa angka 19 ribu ekor sapi hanyalah simulasi atau pengandaian perhitungan. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut tidak mencerminkan kondisi riil harian di lapangan. “Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” jelasnya setelah meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa, 21 April 2024.

Dadan menambahkan bahwa dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 hingga 382 kilogram, atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja. “Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 kilogram, itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja,” kata Dadan.

BGN menegaskan bahwa tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar. Sebagai contoh, pada perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto, 17 Oktober 2023, menu yang disajikan adalah nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta orang. “Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000,” ungkapnya.

BGN juga meminta penyusunan menu MBG disesuaikan dengan sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah. “Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” tutupnya.

Dengan penjelasan ini, Dadan menegaskan kembali pentingnya adaptasi menu sesuai kondisi lokal. Ia menekankan bahwa kebijakan BGN bertujuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan gizi dan kestabilan harga pasar. Dampak nyata dari komentar awalnya menunjukkan bagaimana data yang tidak disertai konteks dapat menimbulkan kebingungan. Penjelasan yang lebih detail tentang simulasi dan perhitungan kebutuhan daging memberi gambaran lebih jelas tentang mekanisme operasional SPPG. Keterbukaan informasi ini penting agar publik memahami bahwa kebijakan gizi tidak bersifat satu ukuran cocok untuk semua, melainkan disesuaikan dengan realitas setiap daerah.

Dadan HindayanaBadan Gizi NasionalMakanan Bergizi GratisDaging SapiSimulasiSPPGMenu LokalHarga Telur

Komentar

Memuat komentar...