Dadang Haries Mundur Jadi Pelatih Kepala Sepeda Indonesia

Dani L. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Dadang Haries Mundur Jadi Pelatih Kepala Sepeda Indonesia

Gambar atau konten salah?

Dadang Haries Poernomo memutuskan untuk mundur dari jabatan pelatih kepala Tim Nasional balap sepeda Indonesia. Ia mengajukan surat pengunduran diri pada hari Senin, 11 Mei 2026, kepada Sekretaris Jenderal Indonesia Cycling Federation (ICF). Alasan utama yang ia sampaikan adalah keinginan untuk memberi waktu bagi keluarga.

"Saya ingin istirahat dan fokus keluarga. Jadi ada hal yang benar-benar saya harus fokuskan. Di satu sisi, ada keperluan keluarga yang harus dipenuhi dan tidak bisa ditinggalkan," ujar Dadang.

Dadang memimpin tim nasional sejak tahun 2018, dimulai di Asian Games yang diselenggarakan di Jakarta‑Palembang. Pada acara tersebut, Indonesia berhasil meraih dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu melalui prestasi tim balap sepeda.

Selama periode kepelatihan, ia berhasil meloloskan dua atlet ke Olimpiade. Pertama, Toni Syarifudin di disiplin BMX pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, ketika Dadang masih menjabat sebagai Ketua bidang BMX di PB ISSI (sekarang ICF). Kedua, Bernard van Aert berhasil lolos ke Olimpiade 2024 di Paris setelah melewati kualifikasi negara di disiplin track nomor Omnium Putra.

Prestasi terakhir yang diraih Dadang adalah saat mengantarkan atletnya meraih medali emas di SEA Games Thailand pada Desember 2025. Indonesia menutup ajang tersebut dengan tiga medali emas, empat perak, dan empat perunggu.

"Sukanya itu proses mengulik, mencari. Terus terang saja, ini dari sudut pandang saya, prestasi kita belum maksimal betul. Ada beberapa cabang yang mungkin unggul di Asia, tetapi tidak semuanya merata," ujarnya.

"Nah, saya senangnya mengulik bagaimana anak-anak (minimal) tembus Asia dulu. Jadi proses menuju ke sananya, mencari sesuatu yang sesuai iklim Indonesia. baik dari segi anggaran hingga volume kompetisinya," tambahnya.

"Kita itu kan kalau mau dibandingkan dengan tim Asia seperti China, Jepang, Korea, jujur sangat engap‑engap‑an dari segi apapun banyak ketinggalan. Tapi pada diri saya tak mau menyerah begitu saja, saya mau cari sesuatu yang bisa melawan mereka," jelas Dadang.

"Ini kan kita sulit jika ingin tembus ke Asia, apalagi ke tingkat dunia. Tapi, kita step by step sudah menuju ke sana. Itu merupakan kepuasan bagi saya," ia menutup.

"Lalu soal kompetisinya, ya rintangan yang harus kita hadapi. Ada banyak hal tapi kita harus terus maju, tidak boleh menyerah, tak boleh kendur. Itu saja," ia katakan.

"Bagi saya (meloloskan atlet ke Olimpiade) itu adalah sebuah prestasi. Maksud saya, orang-orang tidak bisa melihat bahwa sebenarnya ada perbedaan besar antara wildcard dengan lolos kualifikasi," ia ungkap.

"Kami lolos kualifikasi. Tony lolos kualifikasi selama dua tahun. Kemudian, Bernard juga lolos kualifikasi selama dua tahun. Jadi, ini prosesnya yang panjang dan tidak mudah. Tapi ini adalah sebuah pencapaian dan membuat saya bangga," tambahnya.

Dadang meninggalkan tim nasional di saat Indonesia menghadapi ajang multievent besar, yakni Asian Games 2026 di Aichi‑Nagoya dan kualifikasi Olimpiade 2028 di Los Angeles. Untuk Asian Games, ICF menargetkan empat medali emas. Ia percaya bahwa penerusnya dapat membawa hasil optimal, sekaligus memberi peluang bagi pelatih muda untuk menimba pengalaman.

Di tengah persaingan di Jepang, ia berharap pelatih muda dapat menembus tantangan tersebut. "Sekarang ini banyak pelatih-pelatih muda berpotensi. Ini bisa menjadi kesempatan mereka untuk menimba pengalaman. Asian Games juga tantangannya cukup besar apalagi di Jepang. Harapannya bisa tembus lah," ungkap Dadang.

Dengan sejarah panjang yang mencakup medali di Asian Games, SEA Games, dan kualifikasi Olimpiade, keputusan Dadang untuk mundur menandai akhir era kepelatihan yang penuh dedikasi. Ia menekankan pentingnya fokus pada keluarga, sekaligus menegaskan bahwa pencapaian atlet di tingkat internasional tetap menjadi kebanggaan utama.

Dadang Haries PoernomoIndonesia Cycling Federationmundur pelatihkeluargaOlimpiadeAsian Gamesmedali emaspelatih muda

Komentar

Memuat komentar...