Daging Kambing Tidak Menyebabkan Hipertensi, Katakan Pak Prof
Gambar atau konten salah?
Di Jakarta, banyak orang masih percaya bahwa daging kambing dapat memicu hipertensi. Namun, Prof Dr Ir Ronny Rachman Noor, MRur, Sc dari Fakultas Peternakan IPB University menegaskan bahwa klaim tersebut tidak didukung data ilmiah. Ia menulis di situs resmi IPB pada 06 April 2026 bahwa, “Sebagaimana halnya dengan daging merah lainnya, daging kambing secara ilmiah tidak menjadi pemicu hipertensi. Namun, hal itu bisa disebabkan karena cara penyajian dan konsumsi yang terkait erat dengan hipertensi.”
Menjelaskan lebih lanjut, beliau menyoroti bahwa kualitas nutrisi daging tergantung pada jenis ternak, faktor genetik, dan cara pemeliharaan. Hewan yang digembalakan di alam bebas biasanya menghasilkan daging yang lebih sehat. Prof Ronny menambahkan, “Kandungan lemak jenuh dan kolesterol dari daging kambing juga lebih sedikit dibandingkan dengan ternak yang dihasilkan dari sistem penggemukan.”
Daging kambing, atau Chevon, sering dianggap sebagai alternatif daging merah terbaik. Menurut data yang disampaikan, daging kambing mengandung lebih sedikit lemak jenuh, yang bermanfaat untuk kesehatan jantung. Prof Ronny menegaskan, “Daging kambing mengandung lebih sedikit lemak jenuh dibandingkan daging merah lainnya yang bermanfaat dalam menunjang kesehatan jantung. Di samping itu, daging kambing kaya zat besi dan protein yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.”
Kolesterol dalam daging kambing berada di batas sedang. Prof Ronny menekankan, “Kolesterol yang ada di dalamnya berada di batas sedang. Jadi, mengonsumsinya dalam porsi wajar tidak akan langsung meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol di dalam tubuh.”
Dalam 100 gram daging kambing hanya terdapat 122 kalori, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 190 kalori pada daging sapi atau 175 kalori pada domba. Lemak totalnya hanya 2,6 gram, sedangkan daging sapi mengandung 7,9 gram dan domba 8,1 gram. Lemak jenuh terendah, yaitu 0,79 gram. Prof Ronny menyatakan, “Dari sisi kandungan protein, kandungan pada daging kambing hampir seimbang dengan daging sapi dan domba pada kisaran 23‑25 gram.”
Keunggulan lainnya adalah kandungan zat besinya. Daging kambing mengandung 3,2 mg zat besi, lebih tinggi dibandingkan sapi 2,9 mg dan domba 1,4 mg. Prof Ronny menambahkan, “Namun, daging kambing lebih unggul dari sisi kandungan zat besinya, yaitu sebesar 3,2 mg, dibandingkan dengan daging sapi dan domba yang masing-masing hanya mengandung 2,9 mg dan 1,4 mg.”
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan hipertensi disarankan membatasi konsumsi daging merah, terutama yang diproses dan mengandung lemak jenuh tinggi. Prof Ronny menekankan pentingnya metode penyajian: “Menggoreng daging atau memasaknya menggunakan tambahan garam, mentega, maupun saus berlemak secara berlebihan dapat mengubah hidangan sehat menjadi pemicu darah tinggi.”
Besaran porsi juga penting. Prof Ronny menegaskan, “Makan daging merah jenis apa pun, termasuk daging kambing, dalam porsi yang berlebihan bisa menimbulkan tekanan pada kardiovaskular.” Ia menambahkan, “Porsi konsumsi daging merah ini sangat berpengaruh pada status kesehatan individu. Orang dengan hipertensi atau kondisi kardiovaskular harus memantau asupan daging merah, termasuk daging kambing.”
Untuk mengolah daging kambing, Prof Ronny menyarankan beberapa langkah sederhana. Pertama, pilih daging yang tidak mengandung lemak berlebihan. Sebelum dimasak, buang lemak yang menempel agar daging bersih dari lemak bawaan. Saat membumbui, gunakan rempah-rempah bernatrium rendah. Ia merekomendasikan metode memasak yang sehat: “Metode memasak yang dianjurkan adalah memanggang, membakar atau merebus. Alangkah baiknya menghindari menggoreng daging kambing.”
Selain itu, ia menyarankan mencampurkan daging dengan sayuran dan biji-bijian utuh agar nilai gizinya seimbang. Prof Ronny menutup dengan pesan praktis: “Jadi, pada intinya untuk mengelola tekanan darah dan kolesterol, daging kambing dapat menjadi bagian dari diet asalkan dikonsumsi secara moderat dan memperhatikan dengan baik cara menyiapkan dan memasaknya.”
Dengan memahami fakta dan cara penyajian yang tepat, daging kambing tetap menjadi pilihan sehat bagi yang ingin menjaga tekanan darah dan kolesterol. Hal ini menegaskan bahwa kebiasaan makan dan metode memasak lebih memengaruhi kesehatan dibandingkan jenis daging itu sendiri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
Anak 7 Tahun di India Berhasil Hindari Dialisis Dari CAKUT
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Tantangan Menemukan Angka Tersembunyi dalam Foto 7 Soal
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
Berita Terbaru
Busan: Tujuh Tempat Wisata Wajib bagi Para Turis 2026
UTM Dapat Izin Buka Dua Program Kedokteran, Mulai 2026/2027
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
