Danantara Tinjau Investasi 1 Tahun, Kerja Sama SMBC & Qatar
Gambar atau konten salah?
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah melewati satu tahun beroperasi. Sejak didirikan, Danantara berfokus pada pengembangan investasi di berbagai sektor usaha untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi domestik.
Namun, langkah ini tidak berjalan tanpa hambatan. Ketidakpastian ekonomi global, terutama akibat konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, menambah beban pada strategi investasi BPI.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa pihaknya terus meninjau portofolio investasi yang dimiliki. Langkah ini bertujuan memastikan setiap aset dapat menghasilkan keuntungan meski di tengah konflik tersebut.
Tadi pagi kita baru stress-testing kita punya portfolio. Karena memang melihat ketidakpastian di di Timur Tengah memang bukan hanya soal Indonesia saja, tapi semua negara tetangga mengalami hal yang sama,
kata Pandu dalam acara Outlook Indonesia: Peran Penggerak Ekonomi Nasional di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa 07 April 2026. Ia mengakui bahwa konflik di Timur Tengah berdampak signifikan pada peningkatan biaya modal (cost of capital) dan risiko investasi, baik secara global maupun domestik. Meski begitu, Pandu tetap optimis bahwa krisis selalu membuka peluang investasi baru yang dapat menjadi target Danantara.
Menurutnya, saat ini setidaknya sudah ada empat sektor usaha yang sedang dipelajari, yakni sektor ketahanan pangan, hilirisasi, sektor kesehatan, dan infrastruktur digital. Ia menambahkan, satu di energy security, kedua di sisi downstream hilirisasi yang memang sedang kita lihat sekarang, ketiga juga kita lihat di sisi healthcare, dan keempat di sisi digital infrastructure.
Menurutnya keempat sektor ini saling berkaitan satu sama lain, terutama untuk sektor ketahanan energi dan infrastruktur digital. Sebab perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memerlukan sumber daya yang sangat besar untuk tetap beroperasi.
When you talk about artificial intelligence and all the opportunities that will come, ada satu yang sebenarnya menjadi backlog mereka, which is energy. Energy is AI. AI itu membutuhkan energi,
ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya sumber energi murah dan akses ke air bersih. “Sumber energi yang murah dan juga access to clean water. Salah satu negara yang paling kaya di sini. So how can we utilize penggunaan energi atau kemampuan energi kita untuk bisa mendapatkan sumber dari sisi AI, which is digital infrastructure. Itulah opportunity yang menurut saya sangat menarik,” sambung Pandu.
Di luar itu, Pandu melaporkan bahwa dalam seminggu terakhir pihaknya telah menjalin dua kerja sama investasi baru. Pertama, Danantara bersama SMBC Aviation Capital membentuk platform investasi aviation leasing, Mandiri Aviation Leasing Fund.
Satu dengan SMBC, merupakan perusahaan terbesar untuk aircraft leasing di dunia. Ini jadi pertama untuk kita lakukan, untuk kita bisa tambah pintar mengenai aviation, dan kedua juga ini kita melakukan deal dengan Qatar Investment Authority. Ini pertama kali Qatar perang, tetap siap berinvestasi di Indonesia masuk ke Labuan Bajo,
ujarnya. Kesepakatan dengan Qatar Investment Authority bertujuan mengembangkan fasilitas wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, guna mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Dengan dua kemitraan baru ini, Danantara menegaskan komitmennya untuk memperluas jaringan investasi dan mendukung pembangunan infrastruktur strategis. Fokus pada energi, hilirisasi, kesehatan, dan digital menunjukkan upaya berkelanjutan untuk menyesuaikan portofolio dengan dinamika global dan kebutuhan domestik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
