Darah Centenarian Mengungkap Rahasia Umur Panjang Ternyata

Fitri A. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Darah Centenarian Mengungkap Rahasia Umur Panjang Ternyata

Gambar atau konten salah?

Para ilmuwan baru saja menemukan bahwa darah orang yang hidup sangat lama menyimpan petunjuk penting tentang rahasia umur panjang. Mereka menemukan bahwa centenarian—orang yang mencapai usia 100 tahun—dan supercentenarian—yang hidup hingga 110 tahun atau lebih—memiliki profil darah yang berbeda dari kebanyakan orang.

Penelitian ini menimbulkan harapan bahwa rahasia hidup lebih lama dan sehat dapat dipelajari melalui biomarker yang terdeteksi di dalam darah. Beberapa studi menunjukkan bahwa centenarian mulai menunjukkan tanda biologis yang menguntungkan sejak usia sekitar 65 tahun. Namun, belum sepenuhnya dipahami apakah faktor ini dipengaruhi oleh genetika, gaya hidup, atau kombinasi keduanya. Biomarker tersebut diduga memiliki efek perlindungan terhadap penuaan dan penyakit.

Awal tahun ini, peneliti di Spanyol melakukan analisis fisiologis dan genetik mendalam terhadap Maria Branyas, salah satu orang tertua di dunia yang meninggal pada usia 117 tahun. Dari sampel darahnya, para peneliti menemukan sejumlah penanda sistem imun yang sehat serta kadar kolesterol jahat yang sangat rendah. Mereka juga mencatat bahwa sel-selnya berperilaku seperti milik orang yang jauh lebih muda.

Menariknya, Branyas memiliki telomer yang sangat pendek. Telomer adalah ujung kromosom yang berfungsi melindungi materi genetik. Biasanya, telomer pendek dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi. Namun, pada kelompok usia sangat lanjut, peneliti menilai telomer bukan lagi indikator utama penuaan. Bahkan, telomer yang sangat pendek diduga bisa memberi keuntungan karena membatasi perkembangan sel kanker.

"Gambaran yang muncul dari penelitian kami, meskipun hanya berasal dari satu individu luar biasa ini, menunjukkan bahwa usia yang sangat lanjut dan kesehatan yang buruk tidak terkait secara intrinsik," tulis tim peneliti yang dipimpin Eloy Santos-Pujol dan Aleix Noguera-Castells.

Penelitian lain dari China, yang dipublikasikan pada 01 Juli 2025, juga menganalisis profil darah 65 centenarian di satu wilayah. Hasilnya, orang yang hidup hingga 100 tahun memiliki kadar asam lemak, alkohol lemak, dan metabolit penting tertentu yang lebih rendah dibanding kelompok usia lebih muda. Menurut peneliti, temuan ini berpotensi digunakan di masa depan untuk membuat tes darah semacam “jam umur panjang” yang dapat memperkirakan harapan hidup seseorang.

"Profil metabolisme plasma para centenarian dan nonagenarian berbeda secara signifikan dari dua populasi yang lebih muda," tulis para peneliti, dikutip dari ScienceAlert. Selain itu, hasil tersebut juga dapat membantu memahami regulasi metabolisme umur panjang dan mendorong praktik klinis gerontologi di masa depan.

Darah memang menjadi jalur penting yang membawa penanda kesehatan ke seluruh tubuh. Kandungan dalam darah dapat memengaruhi organ tubuh, otak, hingga risiko penyakit dan kematian. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan belum ada satu pun tes darah yang saat ini mampu memprediksi secara akurat berapa lama seseorang akan hidup. Hal ini karena umur panjang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetika, pola hidup, lingkungan, hingga unsur kebetulan.

Meski demikian, penelitian terhadap para superager tetap dianggap menjanjikan. Salah satu manfaat terdekatnya adalah membantu mengidentifikasi orang yang mengalami penuaan lebih cepat dan berisiko meninggal dini. Studi pada 01 November 2024 yang menganalisis ratusan metabolit dari sekitar 5.000 orang usia 18 hingga 110 tahun, juga menemukan tanda unik yang berkaitan dengan umur panjang ekstrem. Peneliti menyebut banyak metabolit terkait penuaan berhubungan erat dengan nutrisi, yang berarti pola makan berpotensi menjadi kunci intervensi untuk menua lebih sehat.

Maria Branyas sendiri diketahui menjalani pola makan Mediterania yang kaya yogurt. Peneliti menduga hal ini ikut berperan terhadap umur panjangnya karena mikrobioma ususnya tergolong sangat muda. Para ahli menilai gen memang penting dalam menentukan usia harapan hidup, tetapi bukan segalanya. Gaya hidup dan lingkungan tetap punya pengaruh besar.

Maka dari itu, penelitian tentang orang-orang berusia 100 tahun ke atas diharapkan suatu hari nanti bisa melahirkan terapi atau perubahan gaya hidup yang membantu lebih banyak orang hidup lebih lama dan sehat. Hal ini menunjukkan bahwa darah, sebagai sumber biomarker, dapat menjadi jendela bagi pemahaman lebih mendalam tentang penuaan dan potensi intervensi di masa depan.

centenariansupercentenarianbiomarker darahtelomermetabolitpola makan Mediteraniagerontologi

Komentar

Memuat komentar...