DBD di Pamekasan Tumbuh, 185 Kasus Tercatat, 1 Meninggal
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus menambah jumlah. Hingga 30 April 2026, Dinas Kesehatan setempat mencatat 185 warga terjangkit penyakit yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti. Dari semua kasus, satu di antaranya berujung pada kematian.
DBD sudah menyebar ke semua 13 kecamatan di Pamekasan. Kecamatan Pademawu, khususnya wilayah kerja Puskesmas Sopaah, menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni sekitar 28 kasus. Disusul oleh Kecamatan Kadur dengan 24 kasus, lalu Kecamatan Teja dengan 17 kasus. Angka ini menunjukkan sebaran yang cukup merata di wilayah tersebut.
Kelompok usia yang paling terdampak adalah anak-anak. Mayoritas penderita berusia antara 5 hingga 14 tahun. Namun, kasus juga muncul pada dewasa dan balita, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Meskipun angka kasus tahun ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, peningkatan sejak awal tahun tetap menjadi perhatian serius.
Pada 01 Januari 2026, kasus DBD masih berada di kisaran puluhan. Seiring berjalannya waktu, jumlahnya terus bertambah hingga mencapai ratusan kasus saat ini. Dinas Kesehatan Pamekasan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menerapkan langkah pencegahan melalui gerakan 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, ruam pada kulit, atau tanda perdarahan seperti mimisan. Pemerintah daerah terus menggencarkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di berbagai wilayah guna menekan angka penyebaran DBD.
“Partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah peningkatan kasus di tengah perubahan cuaca yang mendukung perkembangbiakan nyamuk,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan, dr. Saifudin, pada 01 Mei 2026. Dengan kondisi saat ini, masyarakat diharapkan tidak lengah dan tetap menjaga kebersihan lingkungan demi memutus rantai penyebaran penyakit DBD.
Kesimpulannya, meski jumlah kasus menurun dibanding tahun sebelumnya, DBD masih menjadi ancaman serius di Pamekasan. Keterlibatan aktif warga dalam pencegahan dan pengawasan lingkungan tetap menjadi kunci untuk menekan penyebaran penyakit ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
7 SPPG Malang Disuspend Karena Masalah IPAL, Siap Kembali
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Indonesia U-19 Hadapi Timor Leste di Laga Kedua AFF U-19 2026
Semampir: Mobil Baleno, 8 Jeriken Pertalite Ditemukan
1 Muharram Jadi Puncak Tahun Baru Islam, Sejarah Hijrah
Berita Terbaru
Busan: Tujuh Tempat Wisata Wajib bagi Para Turis 2026
UTM Dapat Izin Buka Dua Program Kedokteran, Mulai 2026/2027
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
