Deep & Extreme Indonesia 2026: Fokus Pariwisata Bahari

Dian P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 130 dibaca
Bisik.id
Deep & Extreme Indonesia 2026: Fokus Pariwisata Bahari

Gambar atau konten salah?

Pada 23 April 2026, di JCC Senayan, Jakarta, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa membuka acara Deep and Extreme Indonesia 2026.

Ni Luh menegaskan tekadnya untuk mengembangkan pariwisata bahari di Indonesia. Ia mengajak Kementerian Transmigrasi dan Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenkoinfra) agar turut berperan.

“Wisatawan yang datang ke Indonesia, 75% itu memilih untuk berwisata alam, di mana 65% itu lainnya mereka memilih untuk berwisata bahari. Secara empiris, saya laporkan bahwa kontribusi wisata bahari terhadap sektor wisata nasional itu menunjukkan peran yang sangat signifikan,” kata Ni Luh.

Ni Luh menambahkan bahwa wisata bahari menyumbang sekitar 32%–42% terhadap total aktivitas ekonomi pariwisata nasional, dan berkontribusi sekitar 1,5%–2% terhadap PDB nasional. Lebih dari 2.000 desa pesisir telah dan sedang mengembangkan potensi wisata bahari sebagai penggerak ekonomi lokal.

Ia juga menyatakan bahwa banyak desa wisata berada di wilayah transmigrasi, sehingga kolaborasi lebih kuat diperlukan untuk menggerakkan dan mengembangkan kembali wisata berbasis alam.

Ni Luh mengingatkan bahwa pandemi Covid‑19 mengubah gaya traveling. “Jika dulu wisatawan datang ke Indonesia for happiness, kini mereka liburan ke Indonesia untuk experience.”

Ia menekankan bahwa sekarang wisatawan, terutama asing, lebih memilih wisata berbasis alam seperti diving, surfing, sailing, trekking, dan aktivitas petualangan lainnya.

Agus Harimurti (AHY), Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, menanggapi permintaan Ni Luh. “Jadi kami ingin memberikan dukungan penuh sinergi dan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga seperti ini. Saya rasa termasuk dengan Kementerian transmigrasi karena benar, cukup banyak kawasan trans yang kemudian memiliki potensi di bidang bahari wisata, termasuk pengembangan ekonomi kreatif,” kata AHY.

AHY menambahkan, “Jadi kalau ini bisa kita kawinkan, kita perkuat menggunakan pendekatan infrastruktur dan konektivitas tadi, fisik maupun digital, saya rasa kita akan semakin memiliki destinasi bahari wisata yang membanggakan dan memiliki dampak ekonomi yang signifikan seperti yang disampaikan oleh Ibu Wamen tadi.”

Ia juga menyinggung pengembangan destinasi 10 Bali Baru. “Ada pengembangan 10 Bali baru. Bali begitu indah, puluhan tahun ini telah menjadi jangkar pariwisata Indonesia, tapi kita harus membangunkan Bali‑Bali lainnya karena memang banyak Bali‑Bali lainnya yang mungkin belum tereksplorasi dengan optimal,” kata AHY.

“Lagi‑lagi itu membutuhkan dukungan infrastruktur dan konektivitas antar wilayah. Dari mulai Bunaken di Sulawesi Utara, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, hingga Raja Ampat di Papua Barat Daya dan masih banyak lagi,” ujar dia.

Acara tersebut menyoroti pentingnya pariwisata bahari sebagai pendorong ekonomi, serta perlunya sinergi lintas kementerian, infrastruktur, dan konektivitas untuk mengoptimalkan potensi wisata alam Indonesia.

Pariwisata BahariDeep and Extreme Indonesia 2026Kementerian TransmigrasiInfrastruktur dan KonektivitasEkonomi LokalBali BaruNi Luh Puspa

Komentar

Memuat komentar...