Defisit APBN Tetap di Bawah 3% Meski Harga Minyak Naik

Rizki W. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 35 dibaca
Bisik.id
Defisit APBN Tetap di Bawah 3% Meski Harga Minyak Naik

Gambar atau konten salah?

Pemerintah menegaskan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap di bawah 3%, meski harga minyak naik akibat konflik di Timur Tengah.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa negara akan menjaga defisit melalui efisiensi belanja operasional dan peningkatan penerimaan.

Target defisit kurang dari 3% PDB sesuai UU No. 17 Tahun 2023 menjadi prioritas utama. Airlangga menegaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari amanat pemerintah.

Untuk mencapai efisiensi, pemerintah akan meninjau belanja di berbagai kementerian dan lembaga. Upaya ini sudah dibahas bersama pihak terkait.

Pemerintah juga meneliti kebijakan kerja fleksibel bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk kemungkinan bekerja dari rumah satu hari dalam lima hari kerja. Pihak swasta dapat mengikuti kebijakan serupa.

Presiden Prabowo Subianto meminta optimasi penerimaan dari batu bara, karena harga batu bara naik akibat gangguan distribusi minyak mentah dan LNG. Pemerintah akan merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tahun 2026.

Perubahan harga menimbulkan pajak ekspor yang akan dikaji. Harapannya pendapatan pemerintah meningkat lewat windfall profit.

Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) diharapkan cepat dikonversi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Presiden memerintahkan realisasinya dan menugaskan Danantara untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ringkasan: Pemerintah akan menjaga defisit APBN di bawah 3% dengan efisiensi belanja, peningkatan penerimaan, kerja fleksibel, optimasi batu bara, dan konversi PLTD ke PLTS.

Defisit APBN3%Airlangga HartartoEfisiensi BelanjaBatu BaraWindfall ProfitPLTD ke PLTS

Komentar

Memuat komentar...