Delanggu: Dari Dilonggo ke Sejarah VOC dan Konflik Abad
Gambar atau konten salah?
Kecamatan Delanggu adalah salah satu dari dua puluh enam kecamatan di Kabupaten Klaten. Nama Delanggu pernah disebut sebagai “Dilonggo” sekitar dua ratus delapan puluh tahun yang lalu, sebuah fakta yang menarik bagi peneliti sejarah lokal.
Catatan perjalanan Baron Van Ihmoff, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dikumpulkan dan ditulis ulang oleh L. F. Diengemans, resident Yogyakarta, pada 21 Maret 1925. Dokumen ini menjadi sumber utama tentang perjalanan kolonial pada masa VOC.
Van Ihmoff memulai perjalanannya dari Batavia pada 24 Maret 1746 dan tiba di Delanggu pada 19 Mei 1746, setelah menempuh empat jam perjalanan dari Solo. Dalam catatan berbahasa Belanda, ia menuliskan:
“wij te paard en met draggstoelen onze refjze voorzettende door een vrlj onglijke moddrige en met veel water geinterrum peerde weg naar Dilonggo daar des middags halte hielden zijnde vier uuren van Soeracarta”
Menurut Atok Susanto, nama Delanggu berasal dari istilah Dlangung, yang berarti jalan agung atau jalan raya, istilah yang dipakai pada era Mataram Islam. Ia berkata:
“Delanggu itu dulu oleh para wali dan Ki Ageng menyebut Dlangung, dalan agung, jalan raya jadi era Mataram Islam. Jadi terus ditulis Dlangung,”
Atok juga menambahkan bahwa raja‑raja Surakarta, ketika meninggal, dimakamkan lewat Delanggu menuju Imogiri karena Delanggu dianggap sebagai jalan besar. Ia menyatakan:
“Kalau raja‑raja Surakarta meninggal juga dimakamkan lewat Delanggu ke Imogiri karena Delanggu jalan besar,”
Dalam konteks sejarah perang Diponegoro, Atok mengingat bahwa Delanggu masih dipenuhi rawa dan tepi sungai pada masa Belanda. Ia mengaku:
“Menurut Atok, di zaman Belanda di Delanggu masih banyak rawa dan tepi sungai. Di masa perang Diponegoro, pernah terjadi serangan pasukan pangeran Diponegoro.”
Atok melanjutkan dengan kisah serangan panah api yang menabrak benteng Belanda, serta rencana pembangunan rel dan pengurukan rawa melalui pelurusan sungai Pusur. Ia berkata:
“Pernah Belanda diserang pasukan Diponegoro dengan panah api sehingga benteng jebol. Dulu konon mau membangun rel dan PG menguruk rawa dengan meluruskan sungai pusur,”
Ia menambahkan bahwa sungai Pusur yang dulunya mengalir ke utara di sekitar Delanggu diatur ulang untuk mengatasi rawa. “Ya sungai Pusur itu diluruskan karena sekitar Delanggu itu rawa, aliran Pusur purba itu ke Utara,” ungkap Atok.
Seorang pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, mengonfirmasi bahwa Delanggu memang pernah disebut “Dilonggo” dalam catatan perjalanan Van Ihmoff. Ia berkata:
“Delanggu memang pernah disebut dengan Dilonggo.”
Hari menjelaskan bahwa penulisan “Dilonggo” berasal dari catatan harian Van Ihmoff yang kemudian diambil oleh resident Yogyakarta. Ia menegaskan:
“Betul ditulis Dilonggo. Penulisan dari residen Yogyakarta itu mengambil dari tulisannya Van Ihmoff, dari catatan hariannya. Tulisannya memang Dilonggo,”
Hari menambahkan bahwa jarak antara Solo dan Dilonggo pada masa itu dapat ditempuh dalam empat jam, dengan asumsi naik kereta dan kondisi Medan belum seperti sekarang, masih dalam jaman VOC. Ia menyatakan:
“Nama tempat yang ada kemiripan dengan nama Dilonggo sekarang ya Delanggu. Karena jarak antara Solo ke Dilonggo waktu itu ditulis kan empat jam dengan asumsi naik kereta dan Medan belum seperti sekarang, jangan lupa itu masih jaman VOC,”
Menurut Hari, perjalanan Baron Van Ihmoff berlangsung selama dua bulan 18 hari. Catatan perjalanan tersebut ditulis ulang oleh resident Yogyakarta. Ia menjelaskan:
“Gubernur Hindia Belanda Baron Van Ihmoff melakukan perjalanan selama 2 bulan 18 hari. Catatan perjalanan itu ditulis ulang residen Yogyakarta.”
Hari menguraikan bahwa pada 19 Mei 1746, setelah perjalanan empat jam dari Wanacarta atau Kartasura, rombongan tiba di Dilonggo atau Delanggu melalui jalan yang tergenang air. Ia menambahkan:
“Pada 19 Mei 1746 setelah perjalanan dari Wanacarta atau Kartasura selama 4 jam sampai di Dilonggo atau Delanggu dengan jalan yang tergenang air,”
Setelah beristirahat di Delanggu, rombongan berangkat lagi menuju Gondang (Kecamatan Kebonarum arah Yogyakarta) dan beristirahat selama lima jam. Hari mencatat bahwa perjalanan dari Dilonggo ke Gondang menemui banyak kesulitan. Ia berkata:
“Dalam catatan itu, terang Hari, setelah beristirahat di Dilonggo rombongan berangkat lagi dan beristirahat di Gondang (Kecamatan Kebonarum arah Yogyakarta ) 5 jam kemudian. Disebutkan antara Dilonggo hingga Gondang menemui banyak kesulitan.”
Hari menegaskan bahwa catatan tersebut tidak menyebutkan nama Klaten, dan nama Klaten baru muncul ketika Mayor Cornelius membangun benteng Klaten pada tahun 1797. Ia menambahkan:
“Disebutkan antara Dilonggo atau Delanggu hingga Gondang menemui banyak kesulitan terkait akses jalan dan kekurangan perbekalan. Tidak disebut nama Klaten,”
Hari juga mencatat nama wilayah lain dalam catatan Van Ihmoff, seperti Dilonggo, Gondang, Tadje (Taji), dan Prambanan (ditulis Prabanam). Ia menjelaskan:
“Hari menambahkan dalam catatan Van Ihmoff yang disebut nama wilayahnya antara lain Dilonggo, Gondang, Tadje (Taji) dan Prambanan. Prambanan ditulis Prabanam.”
Catatan tersebut juga mencakup misi diplomatik terkait utang piutang Mataram setelah Amangkurat III, yang akhirnya berhubungan dengan pengurangan tanah kerajaan menjadi di bawah VOC. Hari menyebutkan:
“Perjalanan itu misi diplomatik terkait utang piutang Mataram sepeninggal Amangkurat 3 yang nantinya berhubungan dengan berkurangnya tanah kerajaan menjadi di bawah VOC,”
Hari berpendapat bahwa nama Delanggu lebih berasal dari tumbuhan Dlingo, karena banyak tiponimi daerah pada zaman dulu diambil dari nama tumbuhan. Ia mengonfirmasi:
“Hari berpendapat nama Delanggu lebih ke arah nama tumbuhan Dlingo. Sebab banyak tiponimi daerah zaman dulu dari nama tumbuhan.”
Ia menegaskan lagi bahwa tiponimi nama daerah atau wilayah banyak diambil dari nama tumbuhan. Ia berkata:
“Iya tiponimi nama daerah atau wilayah banyak yang diambil dari nama tumbuhan,”
Catatan sejarah ini menegaskan bahwa Delanggu, yang dulu dikenal sebagai Dilonggo, memiliki peran penting dalam perjalanan kolonial VOC dan konflik lokal pada abad ke-18. Nama tersebut mencerminkan hubungan geografis dan budaya yang kuat antara wilayah ini dan sejarah Jawa Tengah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Kekurangan Sekolah di 5 Kecamatan Semarang: Tanah Belum Tersedia
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
