Delapan Hidangan Lama, Kini Langka di Kuliner Modern
Gambar atau konten salah?
Sejarah kuliner dunia menampakkan kisah‑kisah tentang hidangan‑hidangan yang dulu dianggap mewah, namun kini terasa asing bagi lidah modern. Banyak makanan tersebut pernah menjadi bagian penting dalam tradisi dan budaya, namun berubah menjadi tidak diterima karena alasan etika, kesehatan, atau perubahan persepsi sosial.
Berikut delapan hidangan yang pernah populer di masa lalu, tetapi kini jarang atau bahkan tidak lagi dikonsumsi. Informasi ini diambil dari koleksi sejarah yang dipublikasikan pada 18 Maret 2026.
-
Garum – Saus khas Romawi kuno yang terbuat dari fermentasi jeroan ikan. Campuran garum meliputi ikan, seledri, dan rempah lainnya, disimpan dalam pot tanah liat. Pada zaman Romawi, garum dianggap bumbu penting dan digunakan hampir di semua hidangan karena memberikan rasa asin yang kuat. Meskipun mirip saus ikan modern, aroma garum jauh lebih menyengat. Produksi garum tersebar di wilayah Mediterania. Kini, saus jeroan ikan dianggap ekstrem karena bahan dan proses pembuatannya yang tidak sesuai dengan selera masa kini.
-
Cockentrice – Hidangan unik dari Inggris pada abad pertengahan, tepatnya sekitar tahun 1390. Cockentrice menggabungkan bagian tubuh babi dan ayam dalam satu sajian. Kedua hewan tersebut dijahit lalu dipanggang utuh untuk disajikan di pesta besar. Konsep ini lebih menonjolkan tampilan spektakuler daripada rasa. Saat ini, konsep tersebut dianggap tidak lazim dan sulit diterima, sehingga hanya menjadi bagian dari catatan sejarah kuliner.
-
Dormouse – Hewan pengerat mirip tikus yang termasuk dalam keluarga Nesomyidae. Spesies ini dikenal sebagai primata terkecil di dunia, menyerupai tikus dan berbulu. Di era Romawi kuno, dormouse menjadi makanan populer yang sering dikonsumsi sehari‑hari. Biasanya, bagian kepala dan buntutnya dibuang, lalu dagingnya dipanggang hingga dijadikan sup. Meskipun popularitasnya menurun, beberapa daerah di Korasia dan Slovenia masih mengkonsumsi daging dormouse. Bahkan di Hvar, Kroasia, daging dormouse dipanggang dan disantap dengan roti.
-
Sup Kura‑kura – Hidangan elit di kalangan masyarakat Eropa pada era Victoria, sekitar tahun 1837. Sup ini melambangkan kemewahan dan sering disajikan dalam jamuan resmi. Perburuan berlebihan terhadap kura‑kura serta meningkatnya kesadaran akan konservasi lingkungan membuat hidangan ini ditinggalkan. Kini, versi sup kura‑kura tiruan menggunakan bahan lain lebih umum ditemukan sebagai pengganti.
-
Angsa Panggang – Daging angsa pernah menjadi hidangan bergengsi dan prestisius di kalangan bangsawan Inggris. Hewan ini dianggap simbol kemewahan dan sering disajikan dalam pesta kerajaan. Seiring waktu, perubahan pandangan terhadap perlindungan satwa membuat konsumsi angsa dilarang di banyak negara. Kini, hidangan tersebut tidak lagi ditemukan dalam praktik kuliner modern.
-
Czernina – Sup khas Polandia yang unik karena kuahnya berwarna kuning muda, namun menggunakan darah bebek untuk memberi warna merah pekat. Sup ini dibuat dari campuran tulang ayam atau bebek. Jika darah bebek tidak tersedia, orang Polandia biasa menggantinya dengan darah kelinci, ayam, atau babi. Rasa sup ini sering digambarkan aneh, karena perpaduan rasa creamy seperti mentega yang asin, kemudian disusul rasa yang menyengat.
-
Ambergis – Muntahan paus atau ambergis merupakan benda yang menyerupai lilin, namun harganya sangat mahal di pasaran karena kegunaannya. Pada era Persia kuno, muntahan paus diolah dengan air dan lemon hingga pucuk bunga, lalu disajikan sebagai minuman populer. Muntahan paus juga menjadi makanan favorit Raja Charles II di Inggris, disajikan dengan tambahan telur. Kini, ambergis selain populer di industri obat‑obatan dan parfum, juga sering dijadikan bumbu masakan untuk menambahkan aroma manis.
-
Unta Isi – Hidangan mewah dari Timur Tengah di masa lampau yang melibatkan unta utuh yang diisi daging lain seperti domba, ayam, telur, dan nasi. Sajian ini dikenal sebagai salah satu hidangan terbesar di dunia dan biasanya disajikan dalam pesta kerajaan. Kini, hidangan tersebut hampir tidak pernah dibuat lagi karena alasan praktis dan etika.
Semua hidangan di atas menunjukkan bagaimana persepsi terhadap makanan dapat berubah seiring waktu. Faktor etika, kesehatan, dan kesadaran akan perlindungan hewan memainkan peran penting dalam memutuskan apakah suatu hidangan tetap relevan atau tidak. Meskipun beberapa bahan atau teknik memasak terlihat ekstrem bagi generasi sekarang, mereka tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya kuliner dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
Makanan Ular di Asia: Sup Hong Kong, Sate Indonesia, dan Lagi
Han Lewat 25 Tahun di KFC, Buka Warung Ayam Mantan KFC
Zushiku: Sushi Grab‑n‑Go Menyajikan Rasa Autentik di Jakarta
Bump: Kue Protein Sehat 170 Kalori dari Montreal Fitness
Berita Terbaru
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
